PwC 2025 Global Asset and Wealth Management Report

  • Press Release
  • 05 Jan 2026
Pasar privat diproyeksikan menyumbang lebih dari setengah pendapatan industri manajemen aset global pada 2030 – dengan total aset kelolaan (Assets Under Management/AUM) global diperkirakan mencapai US$200 triliun: PwC 2025 Global Asset & Wealth Management Report
  • Aset kelolaan (AUM) global diproyeksikan meningkat dari US$139 triliun pada 2024 menjadi US$200 triliun pada 2030, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (Compound Annual Growth Rate/CAGR) sebesar 6,2%.
  • Pendapatan pasar privat diproyeksikan mencapai US$432,2 miliar, tumbuh dengan CAGR 8,2%, dan akan menyumbang lebih dari setengah total pendapatan industri asset manajemen global pada 2030.
  • Total kekayaan secara global yang dapat diinvestasikan diproyeksikan melampaui US$481 triliun pada 2030, dengan dua pertiga pertumbuhan didorong oleh segmen Mass Affluent (CAGR 5,7%) serta High-Net-Worth Individuals (HNWIs) yang diproyeksikan tumbuh dengan 6,5%.
  • AUM dana bertokenisasi diproyeksikan melonjak dari US$90 miliar (2024) menjadi US$715 miliar pada 2030, tumbuh dengan CAGR 41%, didorong oleh meningkatnya ritelisasi dalam pasar privat.
  • Margin keuntungan berada di bawah tekanan: meskipun pendapatan meningkat, 89% asset manajer yang disurvei melaporkan adanya tekanan terhadap profitabilitas dalam lima tahun terakhir, dengan laba per AUM turun 19% sejak 2018.
  • Asset Manager menargetkan konvergensi dengan wealth manager dan perusahaan FinTech, serta memanfaatkan AI dan teknologi untuk membangun ekosistem digital yang lebih efisien dalam segi biaya, guna melayani segmen klien yang semakin beragam.

Jakarta, 5 Januari 2026 – Pendapatan pasar privat diproyeksikan mencapai US$432,2 miliar dan akan menyumbang lebih dari setengah total pendapatan industri asset manajemen global pada 2030, seiring dengan meningkatnya permintaan investor individu terhadap aset digital dan produk bertokenisasi yang didorong oleh teknologi, menurut PwC’s 2025 Global Asset & Wealth Management Report.

Laporan yang mensurvei 300 asset manajer, investor institusional, dan distributor dari 19 negara dan 10 teritori, juga berdasarkan perkiraan PwC, menunjukkan bahwa total AUM global diproyeksikan melonjak dari US$139 triliun pada 2024 menjadi US$200 triliun pada 2030, dengan CAGR sebesar 6,2%, sementara total kekayaan global yang dapat diinvestasikan diperkirakan akan melampaui US$481 triliun.

Namun, meskipun laporan ini menunjukkan bahwa pendapatan terus meningkat, para asset manajer masih menghadapi tekanan profitabilitas dan penyempitan margin di tengah persaingan yang semakin ketat, tekanan biaya, kebutuhan talenta berkualitas, serta investasi yang besar untuk melayani segmen klien yang semakin canggih dan beragam.

Sebanyak 89% asset manajer melaporkan adanya tekanan profitabilitas dalam lima tahun terakhir—dengan analisis PwC juga menunjukkan bahwa laba per AUM telah turun 19% sejak 2018, dan mengalami penurunan lebih lanjut sebesar 9% secara menyeluruh di pasar yang diproyeksikan terjadi pada 2030. Meski demikian, institusi tertentu masih dapat mengatasi tren ini, terutama dengan mengoptimalkan potensi teknologi baru.

Biaya tetap menjadi faktor yang paling menekan margin—dengan lebih dari dua pertiga (68%) dari setiap dolar pendapatan habis untuk pengeluaran.

Selain itu, hampir tiga perlima investor institusional menyatakan mereka kemungkinan besar (41%) atau sangat mungkin (16%) mengganti manajer semata-mata karena biaya yang tinggi.

Ketika para asset manajer menghadapi lonjakan pendapatan namun penurunan laba per AUM, setengah (50%) di antaranya menyatakan bahwa mereka menargetkan konvergensi dengan wealth manager dan perusahaan FinTech untuk membangun ekosistem berbasis teknologi, dengan integrasi AI dan otomatisasi dipandang sebagai langkah paling penting untuk mentransformasi dan mempersiapkan model bisnis untuk menghadapi masa depan pada tahun 2030.

John Dovaston, PwC Indonesia Advisor, mengatakan “Dalam lanskap asset manajemen saat ini, pemangkasan biaya hanya memberi waktu, bukan keunggulan. Margin terus berada di bawah tekanan, sementara sensitivitas investor terhadap biaya berada pada titik tertinggi. Untuk dapat bertahan dan berkembang, perusahaan perlu melampaui pendekatan tradisional dan melakukan penataan ulang struktural terhadap profitabilitas. Hal ini mencakup investasi dalam otomatisasi untuk mendesain ulang alur kerja, pemanfataan data secara presisi, serta mengimplementasikan AI guna menghilangkan hambatan di seluruh rantai nilai. Masa depan akan dimiliki oleh mereka yang bertindak sekarang—mengubah tantangan menjadi peluang pertumbuhan.”

Aset kelolaan global diproyeksikan mencapai US$200 triliun pada 2030

Berdasarkan proyeksi dasar, riset PwC memproyeksikan total AUM yang dikelola oleh asset manajer dan wealth (Asset & Wealth Managers/AWMs) akan meningkat dari US$139 triliun saat ini menjadi US$200 triliun pada 2030, dengan CAGR sebesar 6,2%.

Amerika Utara akan tetap menjadi pasar dominan untuk AUM global dengan pertumbuhan CAGR 6,2%, namun Asia-Pasifik diproyeksikan menjadi kawasan dengan pertumbuhan tercepat, dengan CAGR 6,8%. Amerika Latin (6,6%), Timur Tengah dan Afrika (6,3%), serta Eropa (5,6%) juga menunjukkan ekspansi.

Pada saat yang sama, total kekayaan global yang dapat diinvestasikan diproyeksikan meningkat dari US$345 triliun pada 2024 menjadi US$482 triliun pada akhir dekade ini, dengan CAGR sebesar 5,7%.

Dua pertiga dari pertumbuhan ini akan didorong oleh perubahan struktural dan demografis pada segmen Mass Affluent (CAGR 5,7%) serta HNWI, salah satu segmen klien dengan pertumbuhan tercepat, yang diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 6,5%.

Pasar privat akan menyumbang lebih dari setengah pendapatan industry

Pasar privat diperkirakan akan tetap menjadi mesin paling menguntungkan dalam industri. Saat ini, pasar privat menghasilkan sekitar empat kali lipat laba per satu miliar dolar AUM dibandingkan manajer tradisional. Pada 2030, pendapatan pasar privat diproyeksikan mencapai US$432,2 miliar dan akan menyumbang lebih dari setengah total pendapatan industri manajemen aset.

Sorotan lainnya adalah dana bertokenisasi. AUM pada segmen ini diproyeksikan tumbuh dengan CAGR yang luar biasa, yakni sebesar 41%, dari sekitar US$90 miliar pada 2024 menjadi US$715 miliar pada 2030, didorong oleh kematangan infrastruktur blockchain, adopsi institusional, serta terbukanya akses ke pasar privat.

Selain itu, AUM pasif diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 10%, mencapai US$70 triliun pada 2030.

John Dovaston, PwC Indonesia Advisor, berkomentar, "Pasar privat menjadi mesin pertumbuhan industri, dan tokenisasi muncul sebagai salah satu kekuatan paling transformatif dalam asset manajemen global. Meskipun adopsinya masih berada pada tahap awal, potensinya untuk memperluas akses dan mengubah pengalaman investor tidak dapat disangkal. Perusahaan yang mulai membangun infrastruktur digital dan strategi terintegrasi sejak dini akan menjadi pihak yang mampu menangkap gelombang pertumbuhan berikutnya, seiring produk bertokenisasi beralih dari konsep menjadi realitas."

Asset Manajer mengandalkan AI dan menargetkan konvergensi dengan wealth manager serta perusahaan FinTech untuk meredakan tekanan biaya

Pendorong utama reinvensi adalah kemajuan pesat AI, termasuk model generatif dan agentik, bersama dengan tokenisasi.

Separuh asset manajer menyatakan bahwa konvergensi dengan wealth manager dan perusahaan FinTech akan memberikan dampak paling signifikan terhadap pertumbuhan pendapatan mereka pada 2030—melampaui tokenisasi dan adopsi aset digital (38%).

Dua pertiga (69%) investor institusional mengindikasikan kecenderungan untuk mengalokasikan modal kepada asset manajer yang mengembangkan kapabilitas teknologi guna menawarkan produk dan layanan yang lebih unggul.

Albertha Charles, PwC UK Global Asset & Wealth Management Leader, mengatakan “Manajer aset tengah berevolusi di Era Intelegensi, seiring teknologi baru—mulai dari Generative AI hingga Agentic AI—mengubah cara nilai diciptakan dan disalurkan. Pemenang bukanlah mereka yang mengumpulkan aset terbanyak, melainkan mereka yang mampu bertansformasi paling cepat, menerjemahkan inovasi menjadi ekosistem digital yang melayani investor yang semakin beragam, dengan cara yang lebih personal dan efisien daripada sebelumnya.”

Pola kesuksesan di era intelegensi

Bisnis yang paling siap untuk melampaui dan unggul cenderung terkonsentrasi pada empat model utama yang berbeda—namun saat ini hanya 42% perusahaan yang termasuk ke dalam salah satu dari empat pola kesuksesan pemenang tersebut.

  1. Full scale private-to-public hypermarkets: Diproyeksikan menyumbang 49,5% dari peningkatan pendapatan AWM pada 2030. Kelompok ini mencakup pasar publik dan privat dengan cakupan luas serta skala operasional besar, memanfaatkan data dan teknologi untuk personalisasi portofolio, menawarkan layanan end-to-end, serta menerjemahkan intelijen klien menjadi hasil yang lebih optimal.
  2. Solutions platforms: Diproyeksikan menyumbang 14%, berfungsi sebagai mesin konstruksi portofolio yang selaras erat dengan platform kekayaan atau pembeli institusional.
  3. Low-cost manufacturers seperti raksasa Exchange-Traded Fund (ETF) atau Collective Investment Trust (CIT): Diproyeksikan menyumbang 12,2%. Perusahaan ini menyediakan produk investasi yang transparan dan skalabel, dirancang untuk masuk ke portofolio model dan solusi terpisah, dengan keunggulan pada jangkauan produk yang luas dan biaya ultra rendah.
  4. Niche champions: Diproyeksikan menyumbang 18,2%, merupakan spesialisasi yang terdefinisi dengan jelas dan mampu menghasilkan profitabilitas unggul, loyalitas, serta kekuatan merek.

Sementara itu, sisanya hanya akan mampu menangkap 6,1% dari total peningkatan pendapatan pada 2030. Pola kesuksesan pemenang ini memiliki kemungkinan 1,5 kali lebih besar untuk memprioritaskan perubahan demografis, dan 1,5 kali lebih unggul dalam mengotomatisasi hiper-personalisasi melalui pemanfaatan teknologi dalam lima tahun ke depan.  

Catatan untuk editor

PwC’s 2025 Global Asset and Wealth Management Report adalah laporan internasional yang mensurvei 300 manajer aset global, distributor, dan investor institusional dari 19 negara dan 10 teritori antara Agustus–September 2025. Manajer aset yang disurvei mencakup berbagai ukuran AUM, dengan lebih dari setengahnya mengelola aset lebih dari US$50 miliar. Laporan ini mencakup analisis PwC, dengan proyeksi CAGR berdasarkan pemodelan ekonometrik yang menggabungkan berbagai indikator ekonomi dan pendapat para ahli PwC. Kami menyediakan tiga skenario—Base Case, High Case, dan Low Case—yang masing-masing dibangun berdasarkan asumsi berbeda mengenai kemungkinan terjadinya tren global dan tren spesifik industri. Laporan tahun ini merupakan analisis yang berorientasi ke depan tentang respons industri AWM terhadap meningkatnya tekanan biaya, sekaligus mengeksplorasi megatren transformasional, disrupsi, dan peluang yang akan membentuk profitabilitas hingga tahun 2030.

Tentang PwC Indonesia

PwC Indonesia meliputi KAP Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan, PwC Tax Indonesia, PwC Legal Indonesia, PT PwC Advis Indonesia, dan PT PricewaterhouseCoopers Consulting Indonesia, masing-masing merupakan badan hukum yang terpisah dan semuanya merupakan firma anggota jaringan global PwC, yang secara bersama-sama disebut sebagai PwC Indonesia. Kunjungi website kami di www.pwc.com/id.

Tentang PwC

Di PwC, kami membantu klien membangun kepercayaan dan berinovasi sehingga mereka dapat mengubah kompleksitas menjadi keunggulan kompetitif. Kami adalah jaringan yang berbasis teknologi dengan lebih dari 370.000 staf di 149 negara. Melalui audit dan assurance, pajak dan hukum, transaksi dan konsultasi, kami membantu membangun, mempercepat, dan mempertahankan momentum bisnis klien kami. Cari tahu lebih lanjut di www.pwc.com.   


© PwC 2026. Hak cipta dilindungi undang-undang.  

Contact us

Cika Andy

External Communications, PwC Indonesia

Tel: +62 21 509 92901

Follow PwC Indonesia