PwC’s Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025

Adopsi AI mendongkrak produktivitas, terutama bagi Gen Z Indonesia, namun kesenjangan keterampilan antar generasi masih menjadi tantangan

  • Press Release
  • 23 Feb 2026
  • Di Indonesia, sebanyak 96% pengguna harian GenAI melaporkan produktivitas yang meningkat, dibandingkan dengan 75% pengguna yang jarang memakai. Rasa aman dalam pekerjaan juga lebih tinggi (82% vs 63%), dan lebih banyak yang melihat kenaikan gaji (72% vs 52%). 
  • Secara global, adopsi AI masih belum merata. Hanya 14% responden di seluruh dunia yang menggunakan GenAI setiap hari, dan 54% yang memakai AI dalam 12 bulan terakhir. Angka di Indonesia sedikit lebih tinggi, dengan 16% penggunaan harian dan tingkat adopsi keseluruhan mencapai 69%. 
  • Kesenjangan dalam peningkatan keterampilan juga masih terlihat. Secara global, hanya 51% pekerja non-manajer yang merasa punya akses ke sumber belajar, sementara di level eksekutif senior angkanya mencapai 72%. Di Indonesia, situasinya lebih baik: 64% non-manajer merasa punya akses, dan angka itu melonjak hingga 89% untuk para eksekutif senior. 
  • Tekanan finansial dan stres juga masih menjadi tantangan. Secara global, 55% pekerja mengalami tekanan finansial dan 35% merasa kewalahan setiap minggu. Di Indonesia, angkanya lebih rendah, 49% merasakan tekanan finansial dan 25% merasa kewalahan. 

Jakarta, 23 Februari 2026 – Para pekerja mulai angkat suara soal perdebatan besar tentang bagaimana AI memengaruhi produktivitas, pertumbuhan bisnis, dan dunia kerja. Hasil PwC’s Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 menunjukkan bahwa pengaruh AI makin terasa, dan rasa optimis terhadap manfaatnya jauh lebih kuat dibandingkan kekhawatiran yang ada. 

Survei yang melibatkan hampir 50.000 pekerja di seluruh dunia, termasuk 812 responden dari Indonesia, di 48 negara dan 28 sektor menunjukkan bahwa mereka yang memakai GenAI setiap hari jauh lebih sering merasakan manfaat nyata dibandingkan pengguna yang jarang memakainya. Secara global, 92% pengguna harian merasakan produktivitas yang meningkat, 58% merasa lebih aman dengan pekerjaan mereka, dan 52% sudah melihat kenaikan gaji. Di Indonesia, angkanya bahkan lebih tinggi: 96% untuk produktivitas, 82% untuk rasa aman dalam pekerjaan, dan 72% untuk peningkatan gaji. 

Sementara itu, pengguna AI yang jarang memakai teknologi ini secara global hanya mencatat 58% peningkatan produktivitas, 36% rasa aman dalam pekerjaan, dan 32% kenaikan gaji. Di Indonesia, kelompok pengguna yang jarang ini tetap berada di atas rata-rata global, dengan 75% untuk produktivitas, 63% untuk rasa aman dalam pekerjaan, dan 52% untuk gaji. Survei ini menunjukkan bahwa di Indonesia, dampak positif penggunaan GenAI sehari-hari terhadap produktivitas, keamanan pekerjaan, dan kompensasi terasa lebih kuat dibandingkan dengan tren global. 

Survei yang melibatkan hampir 50.000 pekerja di seluruh dunia, termasuk 812 responden dari Indonesia, di 48 negara dan 28 sektor menunjukkan bahwa mereka yang memakai GenAI setiap hari jauh lebih sering merasakan manfaat nyata dibandingkan pengguna yang jarang memakainya. Secara global, 92% pengguna harian merasakan produktivitas yang meningkat, 58% merasa lebih aman dengan pekerjaan mereka, dan 52% sudah melihat kenaikan gaji. Di Indonesia, angkanya bahkan lebih tinggi: 96% untuk produktivitas, 82% untuk rasa aman dalam pekerjaan, dan 72% untuk peningkatan gaji. 

Sementara itu, pengguna AI yang jarang memakai teknologi ini secara global hanya mencatat 58% peningkatan produktivitas, 36% rasa aman dalam pekerjaan, dan 32% kenaikan gaji. Di Indonesia, kelompok pengguna yang jarang ini tetap berada di atas rata-rata global, dengan 75% untuk produktivitas, 63% untuk rasa aman dalam pekerjaan, dan 52% untuk gaji. Survei ini menunjukkan bahwa di Indonesia, dampak positif penggunaan GenAI sehari-hari terhadap produktivitas, keamanan pekerjaan, dan kompensasi terasa lebih kuat dibandingkan dengan tren global.

Pete Brown, PwC Global Workforce Leader, mengatakan, “Pekerja yang memakai AI setiap hari sudah mulai merasakan manfaatnya, mereka jadi lebih produktif, merasa lebih aman dengan pekerjaannya, dan mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Tapi untuk benar-benar memperluas manfaat ini, perusahaan perlu melakukan lebih dari sekadar memberi pelatihan. Cara kerja perlu diperbarui, dan bagaimana manusia bekerja bersama mesin juga harus didefinisikan ulang. Keberhasilan langkah ini akan menentukan apakah GenAI bisa menjadi motor pertumbuhan dan inklusi, atau malah menjadi peluang yang hilang.” 

Secara global, 54% pekerja mengatakan mereka telah menggunakan AI dalam pekerjaan selama 12 bulan terakhir. Namun, penggunaan rutin masih tergolong rendah, yang menunjukkan bahwa masih ada ruang besar untuk memperluas pemanfaatannya dan mendapatkan manfaat nyata. Hanya 14% responden yang menggunakan generative AI setiap hari, dan lebih sedikit lagi (6%) yang memakai agentic AI secara harian. 

Di Indonesia, tingkat adopsi keseluruhan lebih tinggi: 69% pekerja menyatakan telah menggunakan AI untuk pekerjaannya dalam setahun terakhir. Namun, penggunaan hariannya justru sedikit menurun, dengan hanya 16% pekerja yang memakai genAI setiap hari dan 8% yang menggunakan agentic AI secara harian. 

Kesenjangan peningkatan keterampilan: pekerja non-manajerial tertinggal dari para eksekutif senior dalam peluang berkembang dan pandangan mereka terhadap masa depan 

Lita Dewi, PwC Consulting Indonesia Workforce Transformation Leader, menambahkan, “Perubahan-perubahan regulasi, teknologi, geopolitik, maupun preferensi pelanggan akan membentuk masa depan dunia kerja. Di Indonesia, hampir setengah dari pekerja yang disurvei (49%) memperkirakan perubahan regulasi akan berdampak besar, dan 45% memprediksi transformasi teknologi, bahkan naik menjadi 74% di kalangan pengguna GenAI harian. Ini menunjukkan bahwa mereka yang sudah mengadopsi AI cenderung lebih siap menghadapi perubahan ke depan. Sementara itu, 44% pekerja juga percaya bahwa konflik geopolitik dan perubahan preferensi pelanggan akan memengaruhi pekerjaan mereka dalam tiga tahun mendatang.” 

Walaupun banyak organisasi mulai berinvestasi dalam program peningkatan keterampilan untuk mengikuti perkembangan teknologi baru dan yang terus muncul, hasil survei menunjukkan bahwa upaya dari perusahaan masih belum merata. Secara global, hanya 51% pekerja non-manajer merasa mereka mendapatkan sumber daya yang cukup untuk belajar dan berkembang, dibandingkan dengan 66% manajer dan 72% eksekutif senior. Di Indonesia, situasinya lebih positif: 64% pekerja non-manajer mengatakan mereka punya akses pada sumber daya pembelajaran yang dibutuhkan, meningkat menjadi 78% di level manajer dan 89% di level eksekutif senior. 

Perbedaan juga terlihat dalam bagaimana pekerja memandang budaya pembelajaran di tempat kerja. Secara global, 54% pekerja merasa tim mereka melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang, dengan angka yang naik menjadi 65% di sektor teknologi dan turun menjadi 47% di sektor transportasi dan logistik. Berbeda dengan itu, Indonesia menunjukkan budaya belajar yang lebih kuat: 72% pekerja mengatakan tim mereka memandang kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Komitmen ini bahkan lebih tinggi di sektor jasa keuangan, mencapai 88%, sementara sektor energi, utilitas, dan sumber daya berada di 62%. Temuan ini menunjukkan bahwa organisasi di Indonesia cenderung membangun lingkungan belajar yang lebih suportif dibandingkan rata-rata global. 

Tekanan finansial meningkat dan mulai memengaruhi motivasi pekerja 

Tekanan finansial masih menjadi kekhawatiran bagi banyak pekerja. Secara global, 55% tenaga kerja mengatakan mereka sedang mengalami tekanan finansial, naik dari 52% di 2024. Lebih dari sepertiga (35%) merasa kewalahan, dan angkanya meningkat menjadi 42% di kalangan Gen Z. Kurang dari setengah (43%) menerima kenaikan gaji dalam setahun terakhir, dan hanya 17% yang mendapat promosi. Bahkan minat untuk meminta kenaikan gaji maupun promosi juga menurun dari tahun ke tahun, dari 43% menjadi 37% dan dari 35% menjadi 32%. 

Di Indonesia, gambaran situasinya sedikit berbeda: 49% pekerja mengatakan mereka mengalami tekanan finansial, turun cukup jauh dari 61% tahun lalu. Sebanyak 25% merasa kewalahan, dan 41% melaporkan kelelahan. Lebih dari separuh (53%) menerima kenaikan gaji, meski hanya 10% yang mendapatkan promosi. Ambisi karier juga sedikit melunak: 32% berencana meminta kenaikan gaji dan 31% ingin mengajukan promosi, sementara 18% mempertimbangkan pindah perusahaan, dan semua angka ini lebih rendah dibandingkan puncaknya di 2024. 

Survei ini juga menunjukkan bahwa pekerja di Indonesia jauh lebih nyaman menyampaikan pendapat dan ide tentang pekerjaan kepada tim mereka dibandingkan dengan rata-rata global. Sebanyak 76% responden di Indonesia merasa nyaman mengungkapkan pandangan mereka, jauh lebih tinggi dibandingkan angka global yang hanya 62%. Perbedaan generasi juga terlihat cukup jelas: manajer Gen X di Indonesia mencatat angka tertinggi dalam hal kenyamanan menyampaikan pendapat, yaitu 89%,  jauh di atas rata-rata nasional dan jauh melampaui angka global 70%. Di sisi lain, Gen Z non-manajer berada di tingkat terendah dengan 68%, meski tetap lebih tinggi dari rata-rata global 55%. 

Para pemimpin organisasi saat ini berada di titik yang sangat penting: mereka punya peluang besar untuk membentuk perusahaan yang bukan hanya memenuhi, tetapi melampaui ekspektasi tenaga kerja, terutama dengan memaksimalkan potensi transformasional AI agar benar-benar siap menghadapi masa depan. 

Lita Dewi, PwC Consulting Indonesia Workforce Transformation Partner, menambahkan, “Perjalanan ini dimulai dengan menutup kesenjangan kekuatan AI, yang membutuhkan strategi tenaga kerja yang jelas, kemampuan yang tepat, dan pembaruan mendasar pada struktur organisasi serta cara kerja untuk meningkatkan kelincahan dan mempercepat adopsi perubahan.” 

Setelah itu, organisasi perlu memperluas mobilitas karier dengan membangun jalur karier yang lebih transparan dan dinamis, memudahkan perpindahan lintas peran, level, maupun lokasi, serta menanamkan budaya belajar jangka panjang agar pekerja terus mengembangkan keterampilan penting dan bisa mengikuti laju perubahan teknologi yang sangat cepat. 

Selain itu, penting juga untuk menumbuhkan lingkungan kerja yang aman secara psikologis, tempat di mana pemimpin berani menunjukkan kerentanan, bersikap transparan, dan mendorong belajar dari kesalahan. Dengan menciptakan budaya kerja yang inklusif dan suportif, organisasi dapat membuka potensi penuh dari pekerja mereka dan mendorong inovasi berkelanjutan di era AI.

Tentang PwC’s 2025 Global Workforce Hopes & Fears Survey

PwC melakukan survei terhadap 49.843 pekerja dari 48 negara dan wilayah serta 28 sektor, mulai 7 Juli hingga 18 Agustus 2025. Angka-angka dalam laporan ini telah disesuaikan secara proporsional berdasarkan distribusi gender dan usia dari populasi pekerja di tiap negara, sehingga pandangan para responden mencerminkan gambaran umum tenaga kerja di berbagai kawasan utama.

Tentang PwC Indonesia

PwC Indonesia meliputi KAP Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan, PwC Tax Indonesia, PwC Legal Indonesia, PT PwC Advis Indonesia, dan PT PricewaterhouseCoopers Consulting Indonesia, masing-masing merupakan badan hukum yang terpisah dan semuanya merupakan firma anggota jaringan global PwC, yang secara bersama-sama disebut sebagai PwC Indonesia. Kunjungi website kami di www.pwc.com/id.

Tentang PwC   

Di PwC, kami membantu klien membangun kepercayaan dan berinovasi sehingga mereka dapat mengubah kompleksitas menjadi keunggulan kompetitif. Kami adalah jaringan yang berbasis teknologi dengan lebih dari 370.000 staf di 149 negara. Melalui audit dan assurance, pajak dan hukum, transaksi dan konsultasi, kami membantu membangun, mempercepat, dan mempertahankan momentum bisnis klien kami. Cari tahu lebih lanjut di www.pwc.com.     

© PwC 2026. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Contact us

Cika Andy

External Communications, PwC Indonesia

Tel: +62 21 509 92901

Follow PwC Indonesia