Jakarta, 2 Maret 2026 – Para CEO semakin meningkatkan fokus mereka untuk mentransformasi bisnis, meskipun tekanan jangka pendek terus menguji ketahanan perusahaan, menurut PwC’s 29th Global CEO Survey. Survei ini didasarkan pada tanggapan 4.454 CEO di seluruh dunia, termasuk dari Indonesia.
Lebih dari setengah CEO global (53%) berencana berekspansi di luar industri tradisional mereka dalam tiga tahun ke depan—menunjukkan dorongan kuat untuk mencari sumber pertumbuhan baru di tengah lingkungan yang semakin kompleks. Di kawasan Asia Pasifik, rencana tersebut sedikit lebih hati‑hati, dengan 37% perusahaan berencana masuk ke sektor baru. Namun di Indonesia, rencana tersebut jauh lebih tinggi, dengan 75% CEO berencana memperluas usaha di luar industri inti mereka. Ekspansi di Indonesia diperkirakan akan berfokus pada industri yang berkembang pesat dan berdekatan, seperti teknologi (22%), listrik dan utilitas (17%), perhotelan dan rekreasi (16%), transportasi dan logistik (15%), serta teknik dan konstruksi (14%).
Para CEO yang telah melakukan ekspansi ke sektor baru dalam lima tahun terakhir mulai melihat hasil yang nyata. Indonesia muncul sebagai negara yang paling aktif melakukan diversifikasi, dengan 56% CEO menyatakan bahwa mereka telah masuk ke industri yang sebelumnya tidak mereka geluti, naik dari 45% pada tahun sebelumnya. Angka ini melampaui rata‑rata global yang berada di 42% dan Asia Pasifik di 29%. Hasilnya pun terlihat signifikan: perusahaan yang berkompetisi di sektor baru dalam lima tahun terakhir menghasilkan rata‑rata 20% pendapatan dari area tersebut. Secara global, angkanya 20%, Asia Pasifik 19%, dan Indonesia mencatat kontribusi tertinggi, yaitu 22%.
Sentimen para CEO menunjukkan tanda‑tanda pelemahan dalam jangka pendek. Secara global, 61% CEO memperkirakan kondisi ekonomi akan bergerak ke arah yang lebih baik dalam 12 bulan ke depan, sementara di Asia Pasifik proporsinya sedikit lebih rendah, yaitu 59%. Sikap yang lebih berhati‑hati ini juga terlihat pada ekspektasi pendapatan. Secara global, hanya 30% CEO yang memperkirakan prospek pendapatan mereka akan meningkat dalam satu tahun ke depan—turun dari 38% pada 2025. Di Asia Pasifik, tingkat ekspektasi tersebut menurun lebih tajam, dari 34% pada 2025 menjadi 21% pada 2026.
Para CEO di Indonesia mengambil pandangan jangka pendek yang lebih berhati‑hati. Hanya 51% yang memperkirakan kondisi ekonomi global akan membaik, dan ekspektasi terhadap prospek pendapatan mereka juga turun dari 35% tahun lalu menjadi 32% tahun ini. Hal ini menunjukkan sikap yang lebih terukur ketika para pemimpin menyeimbangkan ketidakpastian dengan kebutuhan untuk menjaga transformasi jangka panjang.”
Apa yang mendorong pandangan yang lebih berhati‑hati ini? Di tingkat global, Asia Pasifik, dan Indonesia, volatilitas makroekonomi muncul sebagai kekhawatiran bersama, disebutkan oleh para CEO masing‑masing 31%, 33%, dan 27%. Ancaman siber juga menjadi perhatian utama, terutama bagi para pemimpin global dan Asia Pasifik (masing‑masing 31% dan 39%), dan terus menjadi area yang semakin mendapat perhatian di Indonesia (21%). Selain itu, kesenjangan kapabilitas, termasuk talenta dan keterampilan, tetap menjadi tantangan bagi organisasi di Indonesia, dengan 24% CEO menyoroti kekurangan keterampilan sebagai hambatan utama dalam kesiapan menghadapi masa depan.
Terkait tarif, isu yang banyak dibahas tahun lalu, tingkat kekhawatiran di kalangan CEO global (20%) lebih rendah dibandingkan CEO Asia Pasifik (24%) dan Indonesia (23%). Namun bagi CEO Indonesia, dampaknya tampak terbatas: lebih dari setengahnya (56%) memperkirakan bahwa tarif tidak akan membawa perubahan signifikan pada margin laba bersih perusahaan mereka dalam 12 bulan ke depan.
Sri Nair, PwC Asia Pasifik Chairman, menyampaikan, “Tahun 2025 menguji ketahanan global dengan pertumbuhan yang melambat, inflasi yang masih bertahan, serta ketidakpastian geopolitik dan perdagangan yang berlanjut. Meskipun Asia Pasifik tetap menjadi pendorong ekonomi global, berbagai risiko, mulai dari meningkatnya tarif hingga kerentanan rantai pasok, terus membayangi kinerja korporasi dalam jangka pendek. Risiko-risiko ini dapat menyita perhatian manajemen atas, sehingga mengalihkan fokus dari perubahan struktural yang lebih mendasar dan tengah membentuk kembali ekonomi global. Dalam lanskap yang terus berkembang ini, CEO yang mampu bertahan dan berhasil adalah mereka yang bertindak dengan tujuan yang jelas, melihat peluang di luar industri tradisional, menghubungkan kapabilitas dengan cara-cara baru, dan lebih awal memposisikan diri untuk sumber pertumbuhan berikutnya.”
Di tengah tekanan eksternal tersebut, para CEO juga melihat lebih dalam untuk menilai apakah organisasi mereka memiliki kesiapan yang memadai untuk mengikuti skala dan kecepatan perubahan yang terjadi. Survei menunjukkan bahwa isu‑isu jangka pendek masih mendominasi agenda para CEO, dengan 84% secara global, 79% di Asia Pasifik, dan 84% di Indonesia berfokus pada prioritas jangka pendek hingga menengah (0–5 tahun). Hal ini menimbulkan pertanyaan penting tentang seberapa besar kapasitas yang tersisa untuk mendorong transformasi jangka panjang yang mereka anggap krusial.
Fokus jangka pendek ini tercermin dalam keputusan alokasi modal para CEO:
Kecerdasan buatan mulai memberikan hasil, tetapi belum merata
CEO di Asia Pasifik mulai melihat nilai dari penerapan AI. Hampir empat dari sepuluh (39%) melaporkan bahwa AI telah mendorong peningkatan pendapatan dalam 12 bulan terakhir, lebih tinggi dibandingkan rata‑rata global (30%). Selain itu, 26% juga melihat penurunan biaya yang nyata. Sebagian CEO bahkan mengalami kedua manfaat tersebut sekaligus (15%). Mereka memanfaatkan AI sebagai pengungkit kinerja yang sebenarnya, meningkatkan pendapatan sambil menekan biaya. Namun, separuh lainnya melaporkan bahwa AI belum memberikan dampak finansial yang berarti.
CEO global mulai melihat tanda‑tanda awal nilai dari AI, dengan 30% melaporkan adanya peningkatan pendapatan dalam 12 bulan terakhir dan 26% mengalami penurunan biaya. Kelompok yang lebih kecil (12%) berhasil meraih kedua manfaat tersebut secara bersamaan.
Di Indonesia, 22% CEO menyatakan bahwa AI telah meningkatkan pendapatan, sementara 28% melaporkan penurunan biaya. Hanya 10% yang merasakan kedua manfaat tersebut sekaligus, menunjukkan bahwa manfaat AI mulai terlihat tetapi berkembang dengan kecepatan yang lebih bertahap dibandingkan rekan-rekan di tingkat regional dan global.
Eddy Rintis, PwC Indonesia Territory Senior Partner, menambahkan, “Manfaat AI yang relatif moderat di Indonesia mencerminkan adanya kesenjangan yang jelas antara niat dan implementasi. Banyak organisasi memiliki budaya yang mendukung dan lingkungan yang memungkinkan integrasi AI, masing‑masing 63% dan 57%, namun jauh lebih sedikit yang memiliki fondasi praktis untuk mengubah adopsi menjadi nilai finansial, mulai dari akses data yang memadai (24%) dan investasi yang cukup (32%) hingga proses Responsible AI yang terformalisi (36%) serta kemampuan menarik talenta teknis AI berkualitas tinggi (37%). Menutup kesenjangan ini akan menjadi faktor penting bagi bisnis di Indonesia untuk membuka potensi penuh AI dan bersaing secara lebih efektif di tingkat regional maupun global.”
Catatan untuk editor
Kami mensurvei 4.454 CEO di 95 negara dan yurisdiksi (termasuk 1.766 dari Asia Pasifik) pada periode 30 September hingga 10 November 2025. Angka‑angka global dan regional dalam laporan ini ditimbang secara proporsional berdasarkan PDB nominal masing‑masing negara, sehingga pandangan para CEO mencerminkan representasi yang seimbang di seluruh kawasan utama. Sementara itu, angka pada tingkat industri dan negara didasarkan pada data tanpa penimbangan dari keseluruhan sampel 4.454 CEO.
Tentang PwC Indonesia
PwC Indonesia meliputi KAP Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan, PwC Tax Indonesia, PwC Legal Indonesia, PT PwC Advis Indonesia, dan PT PricewaterhouseCoopers Consulting Indonesia, masing-masing merupakan badan hukum yang terpisah dan semuanya merupakan firma anggota jaringan global PwC, yang secara bersama-sama disebut sebagai PwC Indonesia. Kunjungi website kami di www.pwc.com/id.
Tentang PwC
Di PwC, kami membantu klien membangun kepercayaan dan berinovasi sehingga mereka dapat mengubah kompleksitas menjadi keunggulan kompetitif. Kami adalah jaringan yang berbasis teknologi dengan lebih dari 370.000 staf di 149 negara. Melalui audit dan assurance, pajak dan hukum, transaksi dan konsultasi, kami membantu membangun, mempercepat, dan mempertahankan momentum bisnis klien kami. Cari tahu lebih lanjut di www.pwc.com.
© PwC 2026. Hak cipta dilindungi undang-undang.