Indonesia prioritaskan kesiapan siber, menurut PwC Digital Trust Insights 2026

  • Press Release
  • 11 Dec 2025
  • Investasi dalam risiko siber semakin menjadi prioritas utama, dengan hampir 68% pemimpin bisnis dan teknologi di Indonesia menempatkannya sebagai salah satu dari tiga prioritas strategis teratas.

  • Perubahan geopolitik mendorong organisasi di Indonesia untuk meninjau ulang strategi siber, dengan hampir setengahnya menyesuaikan kebijakan perdagangan dan asuransi siber untuk memperkuat ketahanan.

  • Indonesia unggul dibandingkan Asia Pasifik dan global, dengan 34% organisasi berinvestasi lebih besar pada strategi keamanan siber yang proaktif, melampaui 22% di Asia Pasifik dan 24% di global.

  • Bisnis di Asia Pasifik (55%) dan global (53%) merespons dengan menjadikan alat berbasis AI dan machine learning sebagai prioritas utama untuk mengatasi kesenjangan talenta.

  • Rekayasa sosial berbasis deepfake muncul sebagai ancaman baru, disebutkan oleh 53% responden di Asia Pasifik dan 48% di secara global.

  • Keamanan siber memasuki babak baru yang belum terjamah. Lanskap global dan ancaman yang berkembang pesat, didorong oleh kemajuan teknologi yang cepat, kini menguji ketangguhan strategi siber, menurut survei PwC Global Digital Trust Insights 2026.

Keamanan siber memasuki babak baru yang belum terjamah. Lanskap global dan ancaman yang berkembang pesat, didorong oleh kemajuan teknologi yang cepat, kini menguji ketangguhan strategi siber, menurut survei PwC Global Digital Trust Insights 2026.

Survei yang mewawancarai 3.887 eksekutif bisnis dan teknologi di 72 negara dan wilayah, termasuk Indonesia, mengungkapkan bahwa organisasi di Indonesia tidak hanya mempercepat investasi keamanan siber, tetapi juga melaporkan pertumbuhan bisnis yang lebih kuat serta kepercayaan yang lebih tinggi terhadap masa depan digital dibandingkan di Asia Pasifik dan global.

Sean Joyce, PwC US Global Cybersecurity and Privacy Leader, mengatakan, “Teknologi baru dan yang sedang berkembang, serta ekosistem global yang saling terhubung secara digital dan lanskap ancaman yang terus berubah, telah menciptakan titik kritis. Para pemimpin siber harus menentukan arah ke depan, dan hal tersebut membutuhkan keselarasan di tingkat eksekutif. Organisasi yang paling sukses adalah yang memberikan peran strategis bagi CISO dan mengintegrasikan keamanan siber sebagai bagian dari pengambilan keputusan bisnis. Organisasi yang akan memimpin di masa depan adalah mereka yang berinvestasi dalam keamanan siber bukan hanya untuk merespons, tetapi untuk mengantisipasi. Temuan tahun ini menunjukkan bahwa ketahanan berasal dari pandangan ke depan, bukan dari penyesalan di belakang. Organisasi harus memastikan bahwa mereka juga berinvestasi dalam AI dan keterampilan siber, memprioritaskan peningkatan dan pengembangan ulang tim siber mereka agar dapat memetakan risiko siber secara jelas dan proaktif.”

Laporan ini mengungkapkan bahwa hampir 68% pemimpin bisnis dan teknologi di Indonesia menempatkan investasi risiko siber sebagai salah satu dari tiga strategi teratas untuk tahun yang mendatang, lebih tinggi dibandingkan Asia Pasifik (62%) dan global (61%). Di luar aspek teknologi, organisasi di Indonesia juga memperkuat ketahanan sebagai respons terhadap ketidakpastian geopolitik: 47% memprioritaskan perubahan kebijakan perdagangan dan operasional, dan 45% menyesuaikan kebijakan asuransi siber, melampaui Asia Pasifik (39% dan 41%) serta global (40% dan 39%). Pergeseran ini menegaskan bahwa disrupsi telah mengangkat keamanan siber dari sekedar isu teknis menjadi faktor penting bagi ketahanan bisnis.

Indonesia juga memimpin Asia Pasifik dan global dalam penerapan langkah-langkah keamanan siber secara proaktif. Survei menunjukkan bahwa 34% organisasi di Indonesia mengalokasikan pengeluaran jauh lebih besar untuk strategi proaktif, dibandingkan Asia Pasifik (22%) dan global (24%). Langkah-langkah proaktif ini mencakup pemantauan berkelanjutan, penilaian risiko, pengujian penetrasi, penguatan kontrol, pelatihan karyawan, serta penerapan kerangka tata kelola yang kuat, semuanya bertujuan untuk mengantisipasi ancaman, bukan sekadar merespons.

Kesenjangan AI dan talenta membentuk prioritas keamanan siber

Kekurangan tenaga kerja di bidang keamanan siber terus menghambat kemajuan, sementara organisasi berupaya memanfaatkan AI, mengamankan lingkungan yang semakin kompleks, dan bersiap menghadapi ancaman generasi berikutnya. Bisnis di Asia Pasifik (55%) dan global (53%) merespons dengan menjadikan alat berbasis AI dan machine learning sebagai prioritas utama untuk mengatasi kesenjangan talenta. Namun, AI juga membawa risiko yang signifikan. Laporan ini menyoroti bahwa malware berbasis AI menjadi perhatian bagi 65% organisasi di Asia Pasifik dan 62% secara global, sementara serangan rantai pasok berbasis AI menjadi kekhawatiran bagi 64% organisasi di Asia Pasifik dan 56% secara global. Rekayasa sosial berbasis deepfake juga muncul sebagai ancaman baru, disebutkan oleh 53% responden di Asia Pasifik dan 48% secara global. Ancaman terkait cloud tetap menjadi perhatian utama, dengan 37% organisasi Asia Pasifik dan 33% secara global mengakui bahwa mereka paling tidak siap untuk menanganinya.

Sejalan dengan prioritas keamanan, bisnis terus berinvestasi dalam keamanan endpoint, dengan 15% organisasi di Asia Pasifik dan global menempatkannya pada area investasi teratas. Keamanan endpoint dianggap sebagai komponen penting dari strategi modernisasi, terutama untuk mengurangi risiko ransomware, eksploitasi zero-day, dan kerentanan rantai pasok. Selain itu, 20% organisasi Asia Pasifik dan 19% secara global berencana memanfaatkan layanan terkelola untuk keamanan endpoint.

Subianto, PwC Indonesia Chief Digital & Technology Officer, menambahkan, “AI dengan cepat menjadi pilar utama strategi keamanan siber modern, menawarkan kemampuan transformatif sekaligus menghadirkan risiko baru yang tidak dapat diabaikan oleh para pemimpin. Agen AI otonom kini berkembang melampaui analytical tools dan menjadi sebuah pelindung proaktif, bahkan mampu mengambil respons dan berkolaborasi dengan tim manusia. Namun, teknologi yang sama memicu ancaman baru seperti rekayasa sosial berbasis deepfake dan malware berbasis AI, yang diakui sebagai perhatian utama di berbagai wilayah. Seiring perkembangan ini, keamanan endpoint tetap krusial untuk mengurangi ransomware, eksploitasi zero-day, dan kerentanan rantai pasok, sebagai bagian dari agenda modernisasi yang lebih luas. Di era disrupsi, organisasi beralih dari langkah reaktif ke ketahanan operasional, dengan mengintegrasikan tata kelola, pengendalian risiko, dan kesiapan ke dalam strategi mereka untuk memastikan keamanan siber menjadi pendorong fundamental keberlangsungan bisnis dan kepercayaan.”

 

Catatan untuk editor

Survei PwC Global Digital Trust Insights 2026 mengumpulkan pandangan dari 3.887 eksekutif bisnis dan teknologi antara Mei–Juli 2025. Sepertiga dari para eksekutif (33%) berasal dari perusahaan besar dengan pendapatan sebesar US$5 miliar atau lebih. Responden beroperasi di berbagai industri, termasuk jasa keuangan (21%); manufaktur industri dan otomotif (21%); teknologi, media, dan telekomunikasi (19%); ritel dan pasar konsumen (16%); layanan kesehatan (10%); energi, utilitas, dan sumber daya (9%); serta pemerintahan dan layanan publik (4%). Responden berasal dari 72 negara. Rincian regional responden adalah Eropa Barat (32%), Amerika Utara (27%), Asia Pasifik (18%), Amerika Latin (11%), Eropa Tengah dan Timur (6%), Afrika (4%), dan Timur Tengah (3%). Memasuki tahun ke-28, survei ini merupakan survei tahunan terlama tentang tren keamanan siber. Survei ini juga merupakan yang terbesar di industri keamanan siber dan satu-satunya yang melibatkan partisipasi eksekutif bisnis senior, bukan hanya eksekutif keamanan dan teknologi.

Tentang PwC Indonesia

PwC Indonesia meliputi KAP Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan, PwC Tax Indonesia, PwC Legal Indonesia, PT Prima Wahana Caraka, PT PricewaterhouseCoopers Indonesia Advisory, dan PT PricewaterhouseCoopers Consulting Indonesia, masing-masing merupakan badan hukum yang terpisah dan semuanya merupakan firma anggota jaringan global PwC, yang secara bersama-sama disebut sebagai PwC Indonesia. Kunjungi website kami di www.pwc.com/id. 

Tentang PwC

Di PwC, kami membantu klien membangun kepercayaan dan berinovasi sehingga mereka dapat mengubah kompleksitas menjadi keunggulan kompetitif. Kami adalah jaringan yang berbasis teknologi dengan lebih dari 370.000 staf di 149 negara. Melalui audit dan assurance, pajak dan hukum, transaksi dan konsultasi, kami membantu membangun, mempercepat, dan mempertahankan momentum bisnis klien kami. Cari tahu lebih lanjut di www.pwc.com.

© PwC 2025. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Contact us

Cika Andy

External Communications, PwC Indonesia

Tel: +62 21 509 92901

Follow PwC Indonesia