Jakarta, 26 Januari 2026 – Lebih dari tiga perlima (61%) investor mengatakan bahwa sektor teknologi akan menjadi sektor yang paling menarik untuk investasi dalam tiga tahun ke depan—jauh mengungguli sektor lainnya, menurut PwC’s 2025 Global Investor Survey.
Survei yang dilakukan terhadap 1.074 profesional investasi di 26 negara dan teritori menunjukkan bahwa sektor teknologi diperkirakan memiliki peluang dua hingga tiga kali lebih besar untuk menarik investasi dibandingkan tiga sektor berikutnya. Manajemen aset dan kekayaan berada di posisi kedua dengan 25%, diikuti oleh sektor ketenagalistrikan dan utilitas (24%), serta perbankan dan pasar modal (19%).
Seiring pesatnya perkembangan teknologi, investor juga mengharapkan perusahaan tempat mereka berinvestasi untuk mampu mengikuti perkembangan—92% mendorong peningkatan alokasi modal untuk transformasi teknologi.
Dukungan yang sangat kuat terhadap investasi dalam transformasi teknologi muncul karena investor melihat perusahaan mulai meraih keuntungan dari adopsi AI. Selama setahun terakhir, investor melaporkan adanya peningkatan berbasis AI pada produktivitas (86%), profitabilitas (71%), serta pertumbuhan pendapatan (66%) di perusahaan tempat mereka berinvestasi.
Berkaca dari pencapaian tersebut, lebih dari tiga perempat (78%) investor mengatakan akan setidaknya meningkatkan investasi secara moderat pada perusahaan yang menjalankan transformasi AI secara menyeluruh di lini bisnis perusahaan.
Namun demikian, investor menginginkan transparansi lebih sebagai dasar dalam pengambilan keputusan—kurang dari dua perlima (37%) menilai perusahaan telah mengungkapkan informasi yang memadai terkait strategi dan kebijakan AI mereka.
Kazi Islam, Global Assurance Strategy and Growth Leader, PwC US, mengatakan, “Investor mulai melihat bukti nyata dari peningkatan operasional dan finansial berkat AI. Meskipun investor memahami bahwa imbal hasil dari AI membutuhkan modal awal, mereka tetap mengharapkan kedisiplinan — melalui pengukuran yang relevan untuk pengambilan keputusan, tata kelola yang kredibel, serta bukti bahwa AI mampu membentuk ulang struktur biaya, produktivitas, dan pertumbuhan pendapatan secara aman dan berkelanjutan.”
Optimisme terhadap teknologi berbanding terbalik dengan prospek pertumbuhan keseluruhan yang masih melambat
Meskipun terdapat antusiasme yang cukup besar terhadap investasi di sektor teknologi, ekspektasi terhadap pertumbuhan global tetap rendah di tengah kondisi makroekonomi yang menantang—hanya 28% investor yang memperkirakan perbaikan moderat hingga signifikan dalam pertumbuhan global selama satu tahun ke depan.
Jika ditinjau lebih spesifik dari perspektif global, investor menilai bahwa Amerika Serikat akan menjadi destinasi investasi paling menarik (67%) dalam tiga tahun ke depan, disusul oleh India (45%), Tiongkok (32%), Inggris (26%), dan Uni Emirat Arab (26%).
Meskipun Amerika Serikat menempati peringkat sebagai yang paling menarik, investor yang berbasis di Amerika Sertikat sendiri cenderung lebih pesimis dibandingkan investor di negara lain terkait prospek pertumbuhan global, menegaskan tingkat kehati-hatian dasar yang berbeda di setiap pasar.
Ekspektasi konservatif terhadap pertumbuhan dapat dijelaskan sebagian oleh penilaian investor terhadap lanskap risiko. Lebih dari separuh responden (55%) menilai perusahaan tempat mereka berinvestasi atau yang mereka pantau memiliki tingkat paparan tinggi atau ekstrem terhadap risiko siber, dan hampir sebanyak 53% menilai adanya paparan serupa terhadap pada disrupsi teknologi. Inflasi (44%), volatilitas makroekonomi (43%), dan konflik geopolitik (42%) juga turut menekan sentimen investor.
Ketahanan bisnis dan transparansi AI sebagai faktor kunci pendukung
Di tengah lanskap yang tidak dapat diprediksi, investor mendukung perusahaan yang memperkuat ketahanan bisnis sekaligus mengoptimalkan peluang berbasis teknologi untuk menghasilkan imbal hasil yang jelas dan transparan. Investor mendukung perusahaan yang meningkatkan pengeluaran untuk keamanan siber (88%), agile terhadap model bisnis (73%), kepatuhan regulasi (66%), dan suppy chain management (64%).
Agility terhadap model bisnis dipandang sebagai jalur menuju ketahanan sekaligus pertumbuhan. Sekitar tiga perempat (74%) responden memperkirakan pertumbuhan yang lebih tinggi dari perusahaan yang memanfaatkan peluang di luar sektor tradisional. Sementara 65% menilai perusahaan yang tidak melakukan hal tersebut akan menghadapi risiko disrupsi yang lebih tinggi.
Eddy Rintis, PwC Indonesia Territory Senior Partner, mengatakan, “Investor mengharapkan perusahaan untuk memperkuat ketahanan bisnis sekaligus memberikan transparansi. Mereka berharap perusahaan memperkuat keamanan siber, ketahanan rantai pasok, serta kepatuhan regulasi—serta mengadopsi model bisnis yang agile untuk membuka peluang pertumbuhan. Bergerak di luar sektor tradisional dipandang sebagai langkah penting, dan pada saat yang sama, transparansi terkait strategi dan tata kelola AI menjadi elemen penting dalam membangun kepercayaan. Perusahaan yang mampu memadukan mitigasi risiko yang kredibel dengan inovasi yang nyata akan berada pada posisi terbaik untuk berkembang di tengah lanskap yang tidak dapat diprediksi.”
Dorongan terhadap ketahanan dan pertumbuhan juga mencakup keberlanjutan, dengan 84% investor mengatakan perusahaan perlu mempertahankan atau meningkatkan investasi dalam adaptasi iklim. Sementara itu, 61% investor menyatakan akan setidaknya meningkatkan investasi mereka secara moderat pada perusahaan yang menggunakan data keberlanjutan untuk efisiensi dan kinerja.
Investor juga meminta informasi yang lebih komprehensif mengenai bagaimana manajemen akan mendorong pertumbuhan di tengah ketidakpastian. Permintaan transparansi terbesar mencakup strategi inovasi (47%), imbal hasil dan penghematan biaya dari AI (42%), investasi AI (42%), posisi kompetitif (37%), serta strategi ketahanan (29%).
Pesan dari investor sangat jelas—transformasi teknologi tetap menjadi jalur utama untuk pertumbuhan, namun ketahanan dan transparansi berfungsi sebagai pagar pengaman. Investor mendukung perusahaan yang mampu mengembangkan inovasi secara bertanggung jawab, dengan tata kelola yang jelas, hasil yang terukur, serta rencana yang kredibel untuk mengubah teknologi menjadi nilai jangka panjang.
Catatan untuk editor
PwC’s 2025 Global Investor Survey dirancang untuk menangkap perspektif para profesional investasi di seluruh dunia mengenai lanskap risiko, peluang, dan pengambilan keputusan yang terus berkembang di tengah perubahan yang cepat. Survei ini dilakukan pada 1 September hingga 6 Oktober 2025 dan mencerminkan pandangan 1.074 profesional investasi dari 26 negara dan teritori, yang berasal dari perusahaan investasi, perbankan, private equity dan venture capital, hedge fund, dana pensiun, sovereign wealth funds, serta institusi keuangan lainnya. Lebih dari separuh organisasi responden mengelola aset senilai lebih dari US$50 miliar.
Tentang PwC Indonesia
PwC Indonesia meliputi KAP Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan, PwC Tax Indonesia, PwC Legal Indonesia, PT PwC Advis Indonesia, dan PT PricewaterhouseCoopers Consulting Indonesia, masing-masing merupakan badan hukum yang terpisah dan semuanya merupakan firma anggota jaringan global PwC, yang secara bersama-sama disebut sebagai PwC Indonesia. Kunjungi website kami di www.pwc.com/id.
Tentang PwC
Di PwC, kami membantu klien membangun kepercayaan dan berinovasi sehingga mereka dapat mengubah kompleksitas menjadi keunggulan kompetitif. Kami adalah jaringan yang berbasis teknologi dengan lebih dari 370.000 staf di 149 negara. Melalui audit dan assurance, pajak dan hukum, transaksi dan konsultasi, kami membantu membangun, mempercepat, dan mempertahankan momentum bisnis klien kami. Cari tahu lebih lanjut di www.pwc.com.
© PwC 2026. Hak cipta dilindungi undang-undang.