Segmen kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia tumbuh 49% dengan adopsi mencapai 18% dari total penjualan, sedikit di atas rata-rata ASEAN sebesar 17%.
Dari survei, terdapat tiga kelompok berbeda: pemilik EV 14%, prospek EV 70%, dan skeptis EV 17%, dengan tingkat kepuasan pemilik mencapai 99%, tertinggi di ASEAN.
Indonesia mencatat skor 2,8 dari 5 dalam kesiapan EV, naik dari 2,7, dengan insentif pemerintah di angka 4,0 namun infrastruktur tertinggal di 1,4 dibandingkan Singapura yang berada di 4,3
Jakarta, 20 November 2025 – PwC telah merilis Electric Vehicle Readiness, atau eReadiness, 2025. Tahun ini, selain laporan global yang melibatkan responden dari 28 negara, terdapat bagian khusus yang berfokus pada ASEAN-6 (Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan Singapura). Laporan ini berfokus pada opini konsumen terkait kendaraan listrik (electric vehicle/EV), termasuk BEV (battery electric vehicle), PHEV (plug-in hybrid electric vehicle), dan HEV (hybrid electric vehicle).
Menurut laporan ini, total volume industri (total industry volume/TIV) untuk kendaraan ringan (light vehicle/LV) di ASEAN-6 relatif stabil, hanya turun 1,5% atau setara dengan 2.368.000 unit pada YTD kuartal III 2025 dibandingkan YTD kuartal III 20241. Namun, Indonesia mengalami kontraksi signifikan sebesar -11%, yang dipicu oleh kenaikan pajak kendaraan mewah, pengurangan belanja pemerintah, serta pelemahan rupiah yang menekan daya beli, sehingga konsumen menunda pembelian di tengah perlambatan ekonomi dan ketidakstabilan sosial. Sebaliknya, Vietnam dan Singapura mencatat pertumbuhan yang menonjol masing-masing sebesar +18% dan +25%, didukung oleh insentif EV, kebijakan registrasi, dan penguatan ekonomi, yang menyoroti dinamika kontras di kawasan ini.
Lukmanul Arsyad, PwC Indonesia Industrials and Services Leader, menambahkan, “Di tengah kontraksi pasar otomotif Indonesia sebesar -11% pada YTD kuartal III 2025, elektrifikasi bergerak ke arah sebaliknya. Segmen EV Indonesia tumbuh +49%, sementara ASEAN secara keseluruhan mencatat +62%, dengan tingkat adopsi mencapai 18% dari total penjualan kendaraan, sedikit di atas rata-rata ASEAN sebesar 17%. Thailand dan Vietnam bahkan mencatat pertumbuhan lebih agresif masing-masing +45% dan +84%, dengan tingkat adopsi jauh lebih tinggi di 30% dan 33%. Tren ini menegaskan peluang besar untuk percepatan EV, didorong oleh insentif pajak dan investasi baterai, pada saat pasar konvensional tertekan.”
Hasil survei mengungkapkan tiga kelompok berbeda di antara responden Indonesia: 14% pemilik EV, 70% prospek EV, dan 17% pihak yang skeptis terhadap EV. Dibandingkan dengan ASEAN-6, Indonesia memiliki persentase prospek EV paling kecil, sementara Filipina memimpin dengan 84%. Sebaliknya, Filipina dan Malaysia memiliki persentase pemilik EV terendah, masing-masing hanya 3% dan 4%.
Hampir semua (99%) pemilik EV di Indonesia puas dengan kendaraannya, meningkat dari laporan PwC tahun lalu yang mencatat 93%. Ini merupakan tingkat kepuasan tertinggi di antara negara ASEAN, dengan Malaysia di posisi kedua (96%) dan Filipina ketiga (93%). Secara keseluruhan di ASEAN, pengguna EV puas karena waktu pengisian daya yang lebih cepat (50%), biaya operasional lebih rendah (47%), dan umur baterai yang lebih baik (46%). Waktu pengisian dan biaya operasional tetap konsisten dengan temuan tahun lalu, di mana responden Indonesia menyebutkan faktor ini sebagai alasan utama kepuasan mereka. Namun, 33% pemilik EV di Indonesia mempertimbangkan untuk kembali ke kendaraan bermesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE), dengan alasan EV mereka memiliki biaya perawatan yang lebih tinggi dari perkiraan (71%), pengalaman berkendara yang tidak sesuai harapan (61%), dan jarak tempuh yang dianggap kurang memadai (52%). Selain itu, 47% pemilik EV di Indonesia mempertimbangkan untuk membeli EV bekas sebagai mobil berikutnya, lebih rendah dibandingkan rata-rata ASEAN-6 sebesar 59%.
Untuk responden yang berniat membeli EV, mobil berukuran sedang mendominasi pasar ASEAN-6 (termasuk Indonesia sebesar 69%). Harga tetap menjadi faktor kritis, karena hampir setengah (48%) calon pengguna di ASEAN-6 mengharapkan harga di bawah US$46.000, dengan minat khusus (15%) pada segmen harga rendah yang dimulai di bawah US$11.000.
Konsumen di ASEAN-6 memiliki alasan berbeda untuk ragu mengadopsi EV. Di Indonesia, lebih dari setengah (55%) responden yang skeptis menyebut jarak tempuh terbatas sebagai kekhawatiran utama, diikuti oleh ketidakpastian tentang daya tahan baterai (53%) dan waktu pengisian (42%). Sementara itu, di sebagian besar negara ASEAN lainnya, kekhawatiran terbesar adalah waktu pengisian, yang tetap menjadi faktor dominan dalam pengambilan keputusan mereka.
Laporan ini juga menilai tingkat kesiapan di enam negara ASEAN berdasarkan insentif pemerintah, ketersediaan infrastruktur, pasokan, dan permintaan. Indonesia menunjukkan kemajuan dalam kesiapan elektrifikasi, dengan skor 2,8 (dari skala 5) pada 2025, naik dari 2,0 di tahun sebelumnya. Lompatan terbesar terjadi pada dimensi insentif pemerintah, yang melonjak menjadi 4,0, menjadikan Indonesia negara dengan insentif tertinggi di ASEAN-6.
Lukmanul Arsyad, PwC Indonesia Industrials and Services Leader, berkomentar, “Permintaan konsumen tetap kuat di angka 3,7, menunjukkan Indonesia siap untuk adopsi EV. Dengan fondasi kebijakan yang solid dan insentif tertinggi di ASEAN sebesar 4,0, Indonesia memiliki peluang besar untuk menarik investasi dan mempercepat transisi EV. Namun, keberhasilan akan bergantung pada penutupan kesenjangan infrastruktur, yang saat ini hanya 1,4 dibandingkan Singapura di 4,3, serta penguatan rantai pasok. Pasokan di Indonesia juga masih relatif rendah di angka 2,3, di bawah Vietnam yang mencapai 3,0. Kesenjangan struktural ini menegaskan urgensi aksi terkoordinasi untuk menjaga momentum dan mengamankan posisi kompetitif Indonesia di kawasan.”
Tentang PwC Indonesia
PwC Indonesia meliputi KAP Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan, PwC Tax Indonesia, PwC Legal Indonesia, PT Prima Wahana Caraka, PT PricewaterhouseCoopers Indonesia Advisory, dan PT PricewaterhouseCoopers Consulting Indonesia, masing-masing merupakan badan hukum yang terpisah dan semuanya merupakan firma anggota jaringan global PwC, yang secara bersama-sama disebut sebagai PwC Indonesia. Kunjungi website kami di www.pwc.com/id.
Tentang PwC
Di PwC, kami membantu klien membangun kepercayaan dan berinovasi sehingga mereka dapat mengubah kompleksitas menjadi keunggulan kompetitif. Kami adalah jaringan yang berbasis teknologi dengan lebih dari 370.000 staf di 149 negara. Melalui audit dan assurance, pajak dan hukum, transaksi dan konsultasi, kami membantu membangun, mempercepat, dan mempertahankan momentum bisnis klien kami. Cari tahu lebih lanjut di www.pwc.com.
© PwC 2025. Hak cipta dilindungi undang-undang