Transisi kepemimpinan masih menjadi tantangan bagi NextGen di Indonesia, dengan 43% menghadapi resistensi dari pemimpin senior, sementara 19% bisnis menunda proses suksesi akibat ketidakpastian.
Volatilitas ekonomi menjadi isu paling mendesak bagi bisnis keluarga di Indonesia (63%) maupun global (58%). Bisnis keluarga di Indonesia lebih mengkhawatirkan tantangan perpajakan (49%) sementara global lebih menyoroti kekurangan tenaga kerja (47%) sebagai isu utama.
Meski terdapat optimisme global terhadap AI, 60% bisnis keluarga di Indonesia justru melihatnya sebagai risiko, sama dengan ancaman ekonomi seperti inflasi dan resesi.
Bisnis keluarga di Indonesia melaporkan kekuatan unik: 51% bisnis keluarga di Indonesia menekankan loyalitas kuat antaranggota keluarga dan hubungan jangka panjang yang telah terjalin lintas generasi.
Bisnis keluarga di Indonesia memprioritaskan pembagian dividen (70% vs 68% global) serta pemberian kesempatan kerja bagi anggota keluarga (31% vs 27% global).
Meski banyak yang sudah memformalkan nilai dan kode etik, jumlah bisnis keluarga di Indonesia yang memiliki nilai keluarga yang jelas dan terdefinisi masih lebih rendah dibandingkan rata-rata global.
Satu dari empat bisnis keluarga Indonesia (27%) telah memiliki family office, sedikit di bawah rata-rata global (33%).
Jakarta, 26 November 2025 – Kinerja bisnis keluarga semakin beragam. Hampir 90% bisnis kelurga secara global, termasuk Indonesia, mengakui bahwa tingkat persaingan pasar semakin ketat, menurut PwC Family Business Survey 2025.
Survei yang melibatkan 1,325 bisnis keluarga di 62 negara dan teritori, termasuk Indonesia, mengungkapkan bahwa megatren global memberikan dampak signifikan terhadap bisnis keluarga. Volatilitas ekonomi muncul sebagai isu paling mendesak, baik di Indonesia (63%) maupun global (58%). Bagi bisnis keluarga di Indonesia, tantangan perpajakan (49%) menjadi perhatian utama. Sebaliknya, secara global, isu utama adalah kekurangan tenaga kerja dan tantangan terkait sumber daya manusia (47%). Menariknya, isu tenaga kerja justru menjadi salah satu perhatian paling rendah bagi bisnis keluarga di Indonesia.
Dalam mempersiapkan NextGen, para penerus bisnis keluarga di Indonesia menghadapi tantangan unik: 43% menyebut resistensi dari pemimpin senior sebagai hambatan utama dalam proses transisi kepemimpinan, lebih tinggi dibanding rata-rata global (29%). Temuan ini sejalan dengan persepsi 39% responden yang melihat transisi kepemimpinan sebagai sebuah risiko, dibandingkan 27% yang menganggapnya sebagai peluang dan 34% yang bersikap netral. Selain itu, survei juga mengungkapkan bahwa 19% bisnis keluarga di Indonesia cenderung menunda proses suksesi karena kondisi ketidakpastian tadi, jauh lebih tinggi dibandingkan angka global (10%). Meskipun demikian, dewan direksi di Indonesia cenderung lebih terbuka terhadap perspektif generasi muda, dengan 55% memiliki pemimpin berusia di bawah 40 tahun, jauh lebih tinggi dari rata-rata global (41%). Keragaman gender dalam kepemimpinan bisnis keluarga di Indonesia juga menunjukkan tren positif, dengan 70% bisnis keluarga di Indonesia melibatkan perempuan di jajaran direksi, dibandingkan angka global (68%).
Di tengah volatilitas ekonomi, agility dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan menjadi kunci agar bisnis keluarga dapat berkembang pesat. Ketika ditanya tentang faktor pendukung terpenting bagi bisnis keluarga untuk beradaptasi, survei menunjukkan 54% bisnis keluarga di Indonesia dan global setuju bahwa kepemimpinan yang kuat dan struktur tata kelola yang efektif merupakan kontributor utama yang mendorong kemampuan beradaptasi tersebut.
Marcel Irawan, PwC Indonesia Private Leader, menyampaikan, “Dalam edisi ke-12 Global Family Business Survey, kami mewawancarai 1.325 bisnis keluarga secara global, termasuk 67 dari Indonesia. Harapan pertumbuhan bisnis keluarga di Indonesia sejalan dengan kondisi global: era pertumbuhan pendapatan dua digit sudah berlalu. Di Indonesia, 43% menyebut generasi senior sebagai penghambat utama dalam proses suksesi, menandai poin yang perlu diperhatikan. Terdapat sisi positif sekaligus tantangan lain: 55% organisasi memiliki pemimpin berusia di bawah 40 tahun yang membawa fresh perspectives, dan 70% melibatkan perempuan dalam jajaran direksi. Namun hanya 25% bisnis keluarga yang menilai diri mereka agile (dibandingkan 45% secara global), dan 60% masih melihat AI sebagai risiko daripada peluang. Kondisi ini menantang para generasi penerus (NextGen) untuk berani, agile, dan siap menghadapi ketidakpastian. Kesiapan ini tidak terjadi dengan sendirinya; diperlukan persiapan yang matang, perencanaan suksesi yang terstruktur, serta pendampingan atau coaching.”
Temuan survei menegaskan bahwa agility merupakan pembeda utama. Bisnis keluarga yang melaporkan tingkat agility yang lebih tinggi secara signifikan dalam menghadapi perubahan pasar, permintaan pelanggan, dan tantangan operasional sepanjang tahun lalu, lebih memungkinkan untuk mencapai hasil komersial yang kuat. Di Indonesia, 48% bisnis keluarga menilai diri mereka ‘cukup agile’, sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata global (44%). Di Indonesia, agility ini paling terlihat pada inovasi produk atau layanan (82%), diikuti oleh kemitraan strategis (71%) dan adopsi teknologi (53%).
Selain agility, tujuan perusahaan yang jelas dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif. Bisnis keluarga di Indonesia yang memiliki kode etik yang terdefinisi (72% vs. global 64%) dan nilai-nilai yang telah diformalkan (69% vs. global 64%), menunjukkan tingkat keyakinan yang lebih tinggi. Namun, mereka masih tertinggal dari rata-rata global dalam hal memiliki nilai keluarga yang jelas (78% vs. 83%), menunjukkan bahwa meskipun kejelasan operasional semakin baik, strategi untuk menyampaikan identitas keluarga masih belum optimal.
Meskipun demikian, bisnis keluarga yang agile dan purpose-driven tidak sepenuhnya kebal terhadap tekanan internal. Di Indonesia, 48% bisnis keluarga memilih pendekatan perubahan secara bertahap sembari mempertahankan gaya manajemen dan proses pengambilan keputusan yang sudah familiar, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global (35%). Perihal gaya manajemen, hampir separuh (48%) juga sesekali mengalami konflik, dengan 19% mengakui bahwa ketegangan tersebut sering diabaikan, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global (7%). Meskipun adanya konflik yang sesekali terjadi, bisnis keluarga di Indonesia memiliki kekuatan yang unik: 51% bisnis keluarga di Indonesia menekankan loyalitas kuat antar anggota keluarga dan hubungan jangka panjang yang terjalin lintas generasi, keduanya sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata global (48%). Ikatan ini menjadi fondasi yang membantu bisnis bertahan menghadapi tantangan dan transisi.
Bisnis keluarga semakin memusatkan perhatian pada peluang pertumbuhan baru. Sejalan dengan tren global, bisnis keluarga di Indonesia juga menempatkan kemajuan teknologi dan transformasi digital sebagai prioritas utama, dengan lebih dari separuh (55%) mengidentifikasi area tersebut sebagai area kritis, terutama di kalangan perusahaan menengah yang sedang melakukan ekspansi.
Menariknya, 61% bisnis keluarga secara global telah mengidentifikasi AI sebagai pendorong pertumbuhan utama, melihat potensinya untuk meningkatkan keterlibatan pelanggan dan mendorong perbaikan. Namun, pandangan ini belum sepenuhnya diadopsi oleh bisnis keluarga di Indonesia, di mana 60% masih memandang AI sebagai risiko, setara dengan kekhawatiran besar lainnya seperti kondisi ekonomi, termasuk inflasi dan resesi. Integrasi AI dinilai berpotensi mengganggu model bisnis yang ada, alur kerja, atau peran karyawan, sehingga dianggap sebagai suatu ancaman, terutama bagi bisnis keluarga dengan praktik yang telah berlangsung lama. Meski demikian, adanya kebijakan yang jelas terkait privasi data, praktik AI yang etis, dan transparansi dapat membangun kepercayaan antar anggota keluarga dan tingkat manajemen profesional. Dengan pendekatan yang hati-hati dan bertahap, bisnis keluarga dapat meminimalkan risiko yang dirasakan sekaligus memanfaatkan keunggulan strategis yang ditawarkan AI untuk mendukung pertumbuhan dan ketahanan bisnis.
Sebagai respons terhadap guncangan makroekonomi, banyak bisnis keluarga kini memprioritaskan strategi pertumbuhan yang stabil untuk memperkuat tujuan jangka panjang mereka. Fokus ini mencakup upaya menjaga bisnis sebagai aset keluarga (75% di Indonesia vs. 78% secara global) dan melestarikan warisan keluarga (73% di Indonesia vs. 77% secara global). Komitmen terhadap keberlanjutan juga tercermin dalam praktik pengelolaan kekayaan: satu dari empat bisnis keluarga di Indonesia (27%) telah memiliki family office, sedikit di bawah rata-rata global (33%). Dari jumlah tersebut, mayoritas bisnis keluarga di Indonesia (72%) mengoperasikan model single-family office, dibandingkan 67% secara global, menunjukkan preferensi kuat untuk menjaga kendali dan kerahasiaan dalam pengelolaan kekayaan keluarga. Menariknya, bisnis keluarga di Indonesia menunjukkan kecenderungan lebih besar untuk membagikan dividen kepada anggota keluarga (70% vs. 68% secara global) dan menyediakan peluang kerja bagi anggota keluarga (31% vs. 27% secara global). Reputasi juga dianggap sangat penting oleh sebagian besar bisnis keluarga, dengan 69% bisnis keluarga di Indonesia menyatakan hal ini sangat krusial, meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan angka global (78%). Selain itu, 43% bisnis keluarga di Indonesia menyebut liputan media negatif sebagai risiko terbesar terhadap reputasi mereka, sejalan dengan kekhawatiran global (40%).
Untuk tumbuh dengan percaya diri, survei PwC menyoroti empat fokus area yang membedakan para pelaku bisnis terbaik:
Jonathan Flack, PwC US Global Private Leader, mengatakan, “Selama ini bisnis keluarga dianggap lebih tangguh dibandingkan perusahaan publik, namun kini banyak yang menghadapi tekanan besar. Perubahan kebijakan perdagangan, ketidakpastian rantai pasok, dan volatilitas pasar membuat bisnis keluarga cenderung berhati-hati, memprioritaskan reputasi dan warisan. Meski pertumbuhan tetap kuat, persentase yang mencapai pertumbuhan dua digit secara historis telah menurun. Hampir tidak ada bisnis yang kebal terhadap guncangan eksternal seperti ini, tetapi bisnis keluarga yang agile, dan berorientasi pada tujuan terus mengungguli rekan-rekannya, menyoroti pelajaran strategis penting bagi dunia usaha secara umum. Namun, laju transformasi masih lambat. Transformasi ekonomi global dengan dorongan dari teknologi baru dan yang berkembang membuat pebisnis harus memprioritaskan agility, inovasi, serta program transformasi digital dan AI agar tetap adaptif dan membuka jalur pertumbuhan baru.”
Marcel Irawan menambahkan “Di tengah iklim ketidakpastian saat ini, bisnis keluarga harus agile, bukan hanya dalam operasional, tetapi juga dalam pola pikir. Transformasi tidak selalu berarti perubahan radikal; tetapi juga berkaitan dengan keterbukaan terhadap peluang baru, investasi pada kapabilitas digital, dan menyelaraskan tujuan dengan value creation jangka panjang. Bisnis yang akan bertahan adalah bisnis yang dilakukan dengan kejelasan, keberanian, dan komitmen terhadap nilai legacy-nya.”
Catatan untuk editor
Survei PwC Global Family Business Survey 2025 adalah survei pasar internasional yang meneliti bisnis keluarga serta pandangan mereka terhadap perusahaan dan lingkungan bisnis yang lebih luas. Survei ini dilakukan bekerja sama dengan John L. Ward Center for Family Enterprises di Northwestern University atas nama Kellogg School of Management. Survei melibatkan 1.325 bisnis keluarga di 62 negara dan wilayah antara 1 April hingga 17 Juni 2025. Responden mencakup bisnis dengan pendapatan mulai dari di bawah US$10 juta (18%) hingga perusahaan bernilai miliaran dolar (9%). Lebih dari setengah (54%) melaporkan pendapatan tahunan lebih dari US$51 juta, dengan 41% di atas US$101 juta. Sektor manufaktur menyumbang 34% dari bisnis yang disurvei, 29% berada di sektor barang konsumsi, dan sisanya berasal dari layanan keuangan, teknologi, serta kesehatan, di antara industri lainnya.
Tentang PwC Indonesia
PwC Indonesia meliputi KAP Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan, PwC Tax Indonesia, PwC Legal Indonesia, PT Prima Wahana Caraka, PT PricewaterhouseCoopers Indonesia Advisory, dan PT PricewaterhouseCoopers Consulting Indonesia, masing-masing merupakan badan hukum yang terpisah dan semuanya merupakan firma anggota jaringan global PwC, yang secara bersama-sama disebut sebagai PwC Indonesia. Kunjungi website kami di www.pwc.com/id.
Tentang PwC
Di PwC, kami membantu klien membangun kepercayaan dan berinovasi sehingga mereka dapat mengubah kompleksitas menjadi keunggulan kompetitif. Kami adalah jaringan yang berbasis teknologi dengan lebih dari 370.000 staf di 149 negara. Melalui audit dan assurance, pajak dan hukum, transaksi dan konsultasi, kami membantu membangun, mempercepat, dan mempertahankan momentum bisnis klien kami. Cari tahu lebih lanjut di www.pwc.com.
Tentang Kellogg School of Management di Northwestern University
Kellogg School of Management di Northwestern University adalah sekolah bisnis global terkemuka dengan komunitas dosen, staf, dan mahasiswa yang dinamis. Mereka berkomitmen pada pengajaran dan penelitian inovatif yang membentuk praktik bisnis di seluruh dunia. Untuk informasi lebih lanjut tentang Kellogg, kunjungi www.kellogg.northwestern.edu.
© PwC 2025. Hak cipta dilindungi undang-undang