Indonesia Banking Survey 2018: Pergeseran teknologi di Indonesia sedang terjadi

  • Teknologi dan perubahan kebutuhan nasabah jelas menjadi penggerak transformasi usaha di sektor perbankan Indonesia
  • Risiko teknologi dan disrupsi Fintech dipandang sebagai risiko terbesar pertama dan kedua bagi industri perbankan di Indonesia
  • Kantor-kantor cabang konvensional mulai tergeser dari posisi puncaknya oleh jalur-jalur digital untuk kegiatan transaksi
  • Strategi-strategi mengalami perubahan aktif – hanya 8% responden mempunyai strategi yang sama selama 18 bulan terakhir. Hampir 50% responden mempunyai strategi yang baru sama sekali dalam kurun waktu yang sama.
  • Tren prospek tahun 2018 adalah optimistis namun tetap berhati-hati. Sebanyak 75% bankir yang disurvei mengharapkan peningkatan yang relatif sedang untuk pendapatan bersih. Optimisme di antara bank-bank asing terus menurun, di mana sepertiganya memperkirakan tidak ada peningkatan. 
  • Kredit konsumen akan menggerakkan pertumbuhan kredit secara keseluruhan. Sebanyak 71% responden mengharapkan pertumbuhan kredit konsumen 10% lebih tinggi dibandingkan dengan 58% di tahun 2017. Pertumbuhan kredit usaha diperkirakan relatif stabil secara year-on-year.
  • Masih terdapat kekhawatiran yang cukup besar terhadap Risiko Kredit sebagai salah satu tantangan pertumbuhan, walaupun 65% responden memperkirakan adanya penurunan jumlah kredit bermasalah (NPL), yang mengindikasikan perbaikan sentimen terhadap Risiko Kredit. Lemahnya permintaan menjadi kekhawatiran yang semakin besar.
  • Para bankir optimistis soal margin bunga bersih (NIM), bahkan mungkin terlalu optimistis.
     

Jakarta, 27 Februari 2018 – Indonesia Banking Survey 2018, yang diluncurkan oleh PwC Indonesia, mengungkap bahwa terdapat tren optimisme yang berhati-hati di kalangan bankir dalam negeri di tahun 2018, di mana sebagian besar bankir memperkirakan bahwa kondisi sektor perbankan akan relatif sama atau lebih baik dibandingkan tahun 2017. Jumlah bankir yang mengkhawatirkan adanya penurunan margin tahun ini lebih rendah. Kekhawatiran soal risiko kredit menurun, namun risiko tersebut masih dilihat sebagai tantangan terbesar bagi pertumbuhan kredit.


Prospek

Teknologi menjadi tema yang kembali muncul dalam Survei Perbankan PwC Indonesia yang ke-8 ini. Bank-bank di Indonesia sedang berupaya semaksimal mungkin untuk mengimbangi perubahan-perubahan baru yang mulai terjadi, di mana hanya 8% responden mengaku bahwa bank mereka mempunyai strategi yang sama dengan strategi 18 bulan yang lalu. Walaupun prospek 2018 membaik dibandingkan tahun lalu, risiko-risiko yang terkait dengan teknologi masih menjadi salah satu kekhawatiran utama para bankir dalam industri perbankan di Indonesia.

Berdasarkan hasil survei, teknologi masih menjadi penggerak transformasi usaha nomor satu, dan risiko terbesar bagi industri. Namun yang juga perlu dicatat di tahun 2018 adalah semakin pentingnya kebutuhan nasabah yang terus berubah, yang mendorong bank-bank untuk kembali mengevaluasi cara mereka menjalankan usaha. Fokus yang berpusat pada nasabah juga terlihat dari hasil survei yang mengungkap bahwa sebagian besar bank mengarahkan belanja teknologinya pada bagian depan situs web yang interaktif (front-end web)/aplikasi (app)/sistem-sistem perbankan elektronik.

Dari survei ini, dapat diperhatikan juga bahwa ponsel dan internet untuk pertama kalinya mengambil alih posisi puncak sebagai jalur transaksi nasabah yang paling jamak, mengungguli kantor-kantor cabang konvensional yang masih merupakan jalur transaksi terlazim tiga tahun lalu. Peralihan ke platform ponsel dan internet ini bukanlah sesuatu yang baru, namun kecepatan perubahannya di Indonesia sangat signifikan. Baru tiga tahun yang lalu, 75% bankir memperkirakan bahwa lebih dari separuh transaksinya dilakukan melalui kantor cabang konvensional – kini angka ini turun menjadi 34%, sedangkan tren bertransaksi di jalur digital naik menjadi 35%.

Dalam hal strategi digital, separuh responden dari bank-bank asing dan BUMN merasa bahwa strategi digital mereka telah ‘sangat jelas’, dibandingkan dengan hanya 21% dari semua responden lainnya, yang menunjukkan bahwa masih ada ruang di seluruh sektor perbankan untuk memperbaiki strategi.

Bank-bank plat merah adalah yang paling optimistis dengan kondisi tahun 2018, dan ini tercermin dalam rencana-rencana ekspansi mereka – 67% dari bank BUMN akan memperbanyak baik kantor cabang maupun karyawannya, sedangkan hampir tidak ada yang mengindikasikan rencana pengurangan apa pun. Sebaliknya, separuh responden dari bank-bank asing memperkirakan adanya pengurangan jumlah kantor cabang, dan hanya 12% yang memperkirakan adanya penambahan.

David Wake, Financial Services Leader, PwC Indonesia, berkomentar:

“Kami memperhatikan adanya keterkaitan yang kuat antara kejelasan strategi digital dan sejauh mana responden merasa banknya siap untuk menghadapi masa depan. Dari kalangan bankir yang merasa sangat siap, 73% juga yakin bahwa strategi mereka sudah jelas. Dari responden yang merasa cukup siap, hanya 30% di antaranya telah mempunyai strategi yang jelas. Hasil ini menunjukkan pentingnya bagi suatu bank untuk mempunyai strategi yang jelas dan dapat dipahami dengan baik oleh seluruh organisasi.”

“Ada sejumlah alasan mengapa bank dapat menggunakan strategi yang berbeda-beda dalam mengembangkan jaringan kantor fisiknya: pengetahuan tentang pasar, wilayah, atau basis nasabah setempat; pasar umum (mass market) vs. pasar spesifik (niche). Akan tetapi, ada strategi-strategi yang sangat jelas berbeda sedang berkembang saat ini: strategi-strategi yang terus mendorong pertumbuhan dengan ekspansi cabang, dan yang berusaha menggunakan jalur-jalur digital dan otomatisasi untuk bertumbuh, dengan jejak ekspansi jaringan kantor fisik yang lebih rendah. Yang mana pun itu, hampir semua bank di Indonesia berupaya mengefisienkan biaya.”

Risiko makroekonomi – Risiko ini sudah menjadi risiko terbesar sejak tahun 2015, namun kini turun ke peringkat ke-3, setelah berbagai kekhawatiran tentang perekonomian Indonesia mereda dan optimisme global telah jauh meningkat. Dalam Survei CEO PwC ke-21 yang dilakukan baru-baru ini, tercatat bahwa 60% CEO di Asia Pasifik memperkirakan adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi global di tahun 2018. Hasil tersebut cukup dekat dengan 55% bankir Indonesia dalam survei ini yang mengharapkan adanya perbaikan pada kondisi sektor perbankan di tahun 2018.
Risiko kredit – Kredit menjadi risiko terbesar kedua di tahun 2017, dan tahun ini menurun ke posisi ke-4. Hal ini mencerminkan sentimen yang lebih positif terhadap kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan), dan prospek yang lebih baik secara keseluruhan, namun para bankir masih bersikap hati-hati terhadap risiko kredit yang ada di dalam sektor perbankan sendiri.

Risiko model usaha – meningkat tajam, naik dari urutan ke-11 di tahun 2017 ke urutan ke-5 di tahun 2018. Melihat betapa cepatnya teknologi mengubah seluruh sektor jasa keuangan, para bankir mengkhawatirkan apakah saat ini mereka mempunyai model usaha yang sesuai.

Tingkat keyakinan pada bank-bank di Indonesia – Bank-bank asing adalah yang paling optimistis tentang kemampuannya sendiri untuk mengelola risiko-risiko terbesar dan juga menunjukkan kesenjangan yang paling besar (23%) antara pandangan mereka terhadap kapasitas industri untuk mengatasi risiko-risiko terbesar dan kapasitas mereka sendiri untuk menangani risiko-risiko tersebut. Kesenjangan ini jauh lebih kecil di semua kelompok bank lain, yang bahkan tidak mencapai 5%.

Lucy Suhenda, Banking Leader, PwC Indonesia, berkomentar:

“Secara umum, kita melihat bahwa tingkat kepuasan para bankir paling tinggi dalam hal pengelolaannya di bidang-bidang risiko yang dianggap memiliki tingkat prioritas yang lebih rendah, dan tingkat kepuasan mereka lebih rendah di bidang-bidang risiko dengan prioritas lebih tinggi, seperti Risiko Kredit, Risiko Operasional dan Teknologi. Kemungkinan besar, para bankir akan mengarahkan perhatiannya pada bidang-bidang risiko di mana tingkat kepuasan mereka masih relatif rendah. Namun bidang-bidang risiko ini, terutama Risiko Kredit dan Teknologi, juga tercatat sebagai risiko-risiko terbesar dalam industri perbankan secara keseluruhan. Rendahnya tingkat kepuasan dalam pengelolaan risiko-risiko ini seharusnya menjadi panggilan bagi bank-bank di Indonesia untuk mengambil tindakan dan berinvestasi lebih besar dalam bidang-bidang tersebut.”

Laporan ini juga menunjukkan bahwa meskipun risiko Teknologi merupakan kekhawatiran paling utama, fokus untuk mengelola risiko tersebut nampaknya tidak mempunyai tingkat prioritas yang sama. Hanya 5% responden memilih Teknologi sebagai bidang fokus manajemen risiko nomor satu. Tingkat kepuasan secara keseluruhan dalam pengelolaan Risiko Teknologi/Siber cukup tinggi di angka 62%. Akan tetapi, dua per tiga responden mengatakan bahwa banknya belum mempunyai Pejabat Eksekutif untuk Keamanan Informasi (Chief Information Security Officer).”
 

Catatan kepada editor:

Untuk mengunduh salinan laporan, kunjungi: https://www.pwc.com/id/en/publications/assets/financialservices/2018-indonesia-banking-survey.pdf

Tentang survei

Survei ini adalah Survei Perbankan PwC Indonesia yang ke-8. PwC melakukan survei terhadap 65 responden dari 51 bank yang berbeda di Indonesia. Para responden merupakan pejabat di tingkat manajemen senior pada masing-masing bank tersebut.

Tentang PwC

Di PwC, kami bertujuan membangun kepercayaan dalam masyarakat dan memecahkan masalah-masalah penting. Kami adalah jaringan firma yang terdapat di 158 negara dengan lebih dari 236.000 orang yang berkomitmen untuk memberikan jasa assurance, advisory dan pajak yang berkualitas. Temukan lebih banyak informasi dan sampaikan hal-hal yang berarti bagi Anda dengan mengunjungi situs kami di www.pwc.com.

PwC merujuk pada jaringan PwC dan/atau satu atau lebih firma anggotanya, masing-masing sebagai entitas hukum yang terpisah. Kunjungi www.pwc.com/structure untuk informasi lebih lanjut.

© 2018 PwC. Hak cipta dilindungi undang-undang.
 

Contact us

Cika Andy

External Communications, PwC Indonesia

Tel: +62 21 509 92901

Follow PwC Indonesia