Investasi global pada infrastruktur AI diproyeksikan mencapai US$31,6 triliun hingga 2050: PwC

  • Press Release
  • September 14, 2026
  • PwC memproyeksikan belanja modal sebesar US$31,6 triliun hingga 2050 untuk membangun kapasitas komputasi yang dibutuhkan AI.
  • Belanja modal tahunan data centre diperkirakan meningkat dari sekitar US$800 miliar per tahun pada 2026 menjadi US$1,8 triliun per tahun pada 2050.
  • Pembaruan cip secara berkala akan menjadi pendorong utama investasi jangka panjang.
  • Ketersediaan energi akan menjadi faktor penentu utama dalam arah investasi infrastruktur AI. 
  • Gangguan pada perdagangan cip global dapat mengurangi investasi hingga hampir 20%, sementara meningkatnya fokus pada pengembangan kapasitas dan infrastruktur dalam negeri akan menggeser arah investasi global tanpa mengurangi nilainya secara signifikan.

Jakarta — Investasi global pada infrastruktur kecerdasan artifisial (AI) diproyeksikan mencapai rekor US$31,6 triliun hingga tahun 2050, berdasarkan PwC Global Data Centre Outlook. Belanja modal tahunan untuk data centre diperkirakan meningkat dari sekitar US$800 miliar pada 2026 menjadi US$1,8 triliun pada 2050.

Amerika Serikat, yang memegang peran penting dalam industri cip berteknologi tinggi, diperkirakan akan menyerap hampir setengah (48%) dari total investasi tersebut, atau sekitar US$15,1 triliun. Asia Pasifik diproyeksikan mencatat belanja modal kumulatif sebesar US$8,2 triliun, dipimpin oleh Tiongkok dan India, sementara strategi sovereign AI mendorong percepatan investasi di Eropa dan Timur Tengah.

Berbeda dengan infrastruktur tradisional yang umumnya membutuhkan investasi terbesar pada tahap pembangunan awal, investasi pada infrastruktur AI diperkirakan akan terus meningkat karena cip dan peralatan teknologi informasi dan komunikasi (information and communications technology/ICT) perlu diperbarui setiap beberapa tahun. Porsi investasi untuk peralatan ICT juga diproyeksikan terus meningkat, dari sekitar 70% saat ini menjadi 93% pada 2050.

Akses energi menjadi kunci pengembangan data centre

Laporan ini mengidentifikasi lima faktor utama yang akan menentukan arah investasi secara global. Faktor yang paling menentukan adalah pasokan listrik, karena penyediaan energi yang terjangkau, rendah karbon, dan tersedia dalam skala besar masih menjadi tantangan bagi banyak negara. Selain itu, konektivitas, keamanan, kepastian kebijakan, dukungan masyarakat, serta akses terhadap Graphics Processing Unit (GPU) juga akan memengaruhi lokasi investasi.

Clara Cutajar, PwC Australia Global Infrastructure Leader, mengatakan, "Infrastruktur AI menjadi salah satu tantangan alokasi modal paling penting bagi generasi berikutnya. Infrastruktur ini mencakup teknologi, energi, sektor properti, rantai pasok, regulasi, hingga pembiayaan. Kondisi ini mengubah cara investor infrastruktur memandang kebutuhan modal, risiko, dan potensi keuntungan dari investasinya."

Kontrol ekspor dan penguatan infrastruktur digital domestik membentuk arah investasi

Analisis ini juga menguji dua skenario untuk melihat bagaimana perubahan kebijakan perdagangan, kontrol ekspor, dan penguatan infrastruktur digital domestik dapat memengaruhi investasi global pada infrastruktur AI.

Dalam skenario pertama, kontrol ekspor yang lebih ketat mengganggu rantai pasok cip global. Investasi tahunan turun menjadi sekitar setengah dari proyeksi utama pada 2030 sebelum secara bertahap pulih seiring penyesuaian rantai pasok. Meski demikian, total investasi global hingga 2050 diproyeksikan mencapai sekitar US$25,5 triliun, atau sekitar US$6 triliun lebih rendah dibandingkan proyeksi dasar sebesar US$31,6 triliun.

Skenario kedua menunjukkan hasil yang berbeda. Alih-alih menurunkan investasi secara signifikan, meningkatnya fokus pada penguatan infrastruktur digital dan infrastruktur domestik yang tepercaya mengubah lokasi penempatan investasi. Total pengeluaran global hanya sedikit berkurang, tetapi investasi lebih banyak mengalir ke negara-negara dengan permintaan domestik yang kuat dan kapasitas data centre yang masih berkembang, seiring pemerintah dan sektor yang diatur secara ketat memprioritaskan infrastruktur lokal.

Sebagai hasilnya, Asia Pasifik diperkirakan menjadi wilayah yang memperoleh peningkatan investasi terbesar. Belanja modal kumulatif kawasan ini diproyeksikan meningkat 7% di atas skenario dasar pada 2050. Indonesia termasuk negara yang diperkirakan mengalami peningkatan investasi yang signifikan, bersama India, Vietnam, Filipina, dan Thailand. Hal ini didorong oleh besarnya permintaan domestik yang selama ini masih banyak dilayani oleh data centre regional.

Agung Wiryawan, PwC Indonesia Infrastructure Leader mengatakan, "Meningkatnya kebutuhan digital di Indonesia menciptakan peluang besar bagi investasi data centre. Namun, untuk memanfaatkan peluang tersebut dibutuhkan lebih dari sekadar pembangunan kapasitas. Ketersediaan pasokan listrik, konektivitas, ketersediaan lahan, dan kepastian kebijakan perlu berkembang secara bersamaan, didukung oleh pelaksanaan proyek yang lebih kuat serta partisipasi sektor swasta yang lebih besar. Pendekatan yang terkoordinasi di berbagai aspek tersebut akan menjadi kunci dalam membangun infrastruktur digital yang tangguh dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang."

Selain pertimbangan infrastruktur, meningkatnya kebutuhan digital juga memperkuat potensi investasi data centre di Indonesia. Pertumbuhan layanan cloud, adopsi AI, dan kebutuhan terkait pengelolaan dan penyimpanan data diperkirakan akan mendorong kebutuhan kapasitas tambahan di seluruh Indonesia. Abdullah Azis, PwC Indonesia Technology, Media & Telecommunications Leader, mengatakan, "Indonesia tengah memasuki fase baru transformasi digital, di mana AI, adopsi cloud, dan layanan berbasis data semakin menjadi bagian penting dari pertumbuhan bisnis dan pembangunan ekonomi. Sebagai salah satu ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki peluang besar untuk menarik lebih banyak investasi data centre, didukung oleh meningkatnya permintaan domestik, berkembangnya ekosistem digital, dan pertimbangan terkait penyimpanan dan pengelolaan data. Fokus saat ini bukan hanya menambah kapasitas, tetapi juga membangun fondasi infrastruktur digital yang tangguh, aman, dan berkelanjutan untuk mendukung inovasi, meningkatkan daya saing, serta menciptakan nilai ekonomi jangka panjang.”

Catatan untuk Editor

PwC menunjuk Oxford Economics untuk melakukan pemodelan belanja modal data centre guna mendukung analisis ini. Studi tersebut mencakup 46 negara dan wilayah yang merepresentasikan sebagian besar aktivitas ekonomi serta investasi infrastruktur digital global.

Tentang PwC Indonesia

PwC Indonesia meliputi KAP Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan, PwC Tax Indonesia, PwC Legal Indonesia, PT PwC Advis Indonesia, dan PT PricewaterhouseCoopers Consulting Indonesia, masing masing merupakan badan hukum yang terpisah dan semuanya merupakan firma anggota jaringan global PwC, yang secara bersama-sama disebut sebagai PwC Indonesia. Kunjungi website kami di www.pwc.com/id.

Tentang PwC

Di PwC, kami membantu klien membangun kepercayaan dan berinovasi sehingga mereka dapat mengubah kompleksitas menjadi keunggulan kompetitif. Kami adalah jaringan yang berbasis teknologi dengan lebih dari 370.000 staf di 149 negara. Melalui audit dan assurance, pajak dan hukum, transaksi dan konsultasi, kami membantu membangun, mempercepat, dan mempertahankan momentum bisnis klien kami. Cari tahu lebih lanjut di www.pwc.com.

© PwC 2026. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Contact us

Cika Andy

External Communications, PwC Indonesia

Follow PwC Indonesia