Skip to content Skip to footer
Search
id

Loading Results

Layanan kesehatan dan sosial akan mendapat keuntungan terbesar dari produktivitas dan peningkatan efisiensi 5G, yang akan meningkatkan PDB global sebesar US$1,3 triliun pada 2030

  • Analisis pertama untuk 5G - generasi berikutnya dari mobile connectivity - memperkirakan dampak dari aplikasi baru dan yang sudah ada.
  • Lebih dari separuh dampak ekonomi global (US$530 miliar) akan didorong oleh transformasi layanan kesehatan dan sosial dalam sepuluh tahun ke depan; seperempatnya oleh smart utilities yang mendorong penghematan energi, air, dan pengelolaan limbah
  • Negara-negara yang memiliki manufaktur berukuran besar kemungkinan akan memperoleh keuntungan terbesar, termasuk Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan Jepang, tetapi keuntungan diproyeksikan secara global karena 5G terintegrasi sebagai bagian penting dari infrastruktur milik masyarakat
  • Transparansi sangat penting untuk membangun kepercayaan konsumen dan regulator terhadap aplikasi 5G

 

9 Maret 2021 – Peningkatan produktivitas dan efisiensi yang dimungkinkan oleh aplikasi 5G akan mendorong perubahan bisnis, keterampilan, dan layanan senilai US$1,3 triliun pada Produk Domestik Bruto (PDB) global pada tahun 2030.

Dalam laporan yang berjudul Powering Your Tomorrow, PwC mengukur untuk pertama kalinya, dampak ekonomi dari pemanfaatan 5G baru maupun yang sudah ada di bidang utilitas, layanan kesehatan dan sosial, konsumen, media, dan jasa keuangan di delapan negara dengan peluncuran lanjutan: Australia, Tiongkok, Jerman, India, Jepang, AS, dan Inggris (UK).

Lebih dari versi mobile connectivity  yang lebih cepat pada 4G, kecepatan, keandalan, pengurangan penggunaan energi, dan konektivitas masif yang dimiliki oleh teknologi 5G akan bersifat transformatif bagi bisnis dan masyarakat luas, memungkinkan akses di mana pun ke koneksi broadband super cepat. Dikombinasikan dengan investasi kecerdasan buatan (AI) dan internet untuk segala (internet of things/IoT), 5G dapat digunakan sebagai platform yang memungkinkan bisnis dan masyarakat untuk merealisasikan manfaat penuh dari kemajuan teknologi yang sedang berkembang.

Semua negara yang dinilai dalam studi tersebut diproyeksikan mendapat keuntungan ekonomi, seiring potensi yang ditawarkan oleh 5G untuk mengonsep ulang model bisnis, keterampilan, produk, dan layanan, di mana pencapaian keuntungan tersebut akan semakin cepat mulai tahun 2025 seiring meluasnya penggunaan aplikasi berkemampuan 5G.

Berdasarkan studi tersebut, AS (US$484 miliar), Tiongkok (US$220 miliar), dan Jepang (US$76 miliar) akan mengalami peningkatan terbesar sebagai hasil dari penerapan teknologi 5G, karena ukuran ekonomi dan kuatnya sektor produksi industri modern dari negara-negara tersebut.

Di tingkat regional Eropa, Timur Tengah & Afrika (EMEA) diperkirakan mendapat manfaat paling banyak dari aplikasi manufaktur 5G karena ukuran sektor manufakturnya. Hal ini menunjukkan potensi keunggulan kompetitif regional melalui pendekatan pada adopsi dan regulasi dari teknologi tersebut.

 

Wilson Chow, Global Technology, Media and Telecommunications Industry Leader, PwC Tiongkok, berkomentar:

“Angka-angka ini memang mengukur dampak tetapi mungkin yang lebih penting, dari penelitian kami mencerminkan nilai 5G - tingkat konektivitas dan kolaborasi yang baru berarti perusahaan-perusahaan akan dapat melihat, melakukan, dan mendapat pencapaian lebih banyak. Ini akan membuka peluang baru bagi pertumbuhan dan perubahan seiring berbagai organisasi mulai mengonsep ulang dan menyesuaikan kembali caranya beroperasi di dunia pascapandemi.”

“Dengan adanya pandemi yang mempercepat digitalisasi di semua sektor, 5G akan bertindak sebagai katalis yang mendorong digitalisasi lebih lanjut. Teknologi itu akan muncul dalam dekade ini sebagai bagian yang mendasar dari infrastruktur masyarakat kita dan sebagai platform untuk mendorong daya saing ekonomi nasional, model bisnis baru, keterampilan, dan industri.”

 

Subianto, Chief Technology Officer, PwC Indonesia, menambahkan: 

“Seiring dengan penyusunan Roadmap Digital 2021 - 2024 oleh pemerintah Indonesia, dengan fokus pada empat bidang utama - infrastruktur digital, administrasi digital, ekonomi digital, dan komunitas digital, kami sangat percaya bahwa teknologi 5G memiliki peran dalam mewujudkan keberhasilan roadmap ini. Operator telekomunikasi Indonesia telah memulai uji coba 5G di Indonesia, di mana laporan kami yang berjudul Digital Disruption: 5G’s economic impact memberikan referensi tingkat tinggi untuk mengukur dampak ekonomi 5G dan juga menyoroti sektor-sektor utama yang paling diuntungkan.”

 

Mencapai hasil yang lebih baik dan lebih cepat dalam perawatan kesehatan dan sosial

Lebih dari separuh dampak ekonomi global (US$530 miliar) akan didorong oleh transformasi dalam pengalaman perawatan kesehatan dan sosial bagi pasien, penyedia layanan, dan tenaga medis dalam sepuluh tahun ke depan.

Meskipun percepatan telemedis (telemedicine) selama pandemi COVID-19 memberikan gambaran sekilas tentang perkembangan masa depan perawatan kesehatan, perawatan jarak jauh hanyalah salah satu bidang di mana 5G dapat memungkinkan tercapainya hasil kesehatan yang lebih baik dan untuk penghematan biaya.

Aplikasi 5G mencakup pemantauan dan konsultasi jarak jauh, berbagi data di rumah sakit secara real time, komunikasi dokter-pasien yang lebih baik, dan automasi di rumah sakit untuk mengurangi biaya perawatan kesehatan.

 

Dampak pada tingkat wilayah dan sektor

Pada tingkat sektor, dampak bervariasi pada tiap negara. AS dan Australia diproyeksikan mendapat hasil terbesar dari aplikasi jasa keuangan: India dari smart utilities; Tiongkok dan Jerman di bidang manufaktur. Industri lain yang dianalisis dalam studi ini menunjukkan potensi signifikan dari aplikasi baru dan yang sudah ada selama dekade berikutnya, yang mendorong perubahan dalam keterampilan, lapangan kerja, produk konsumen, dan peraturan:

  • SMART utilities management applications akan mendukung target lingkungan untuk mengurangi karbon dan limbah melalui pengaktifan gabungan pengukur dan jaringan (grid) cerdas untuk menghasilkan penghematan energi, dan meningkatkan pengelolaan limbah dan air melalui pelacakan kebocoran limbah dan air (US$330 miliar).
  • Aplikasi konsumen dan media, meliputi permainan gim pada layanan over the top (OTT), iklan dan layanan pelanggan secara waktu nyata (real time) (US$254 miliar)
  • Aplikasi manufaktur dan industri berat, meliputi pemantauan dan pengurangan cacat, peningkatan penggunaan kendaraan otonom (US$134 miliar)
  • Aplikasi jasa keuangan, termasuk mengurangi penipuan (fraud) dan meningkatkan pengalaman nasabah (US$86 miliar)
 
Kebijakan dan Kepercayaan
 
Studi ini menyoroti bahwa jangkauan potensi teknologi 5G akan mengharuskan bisnis dan pemerintah untuk mempertimbangkan pendekatan baru terhadap regulasi dan keterlibatan konsumen - dengan berfokus pada cara teknologi itu digunakan.
 

Wilson Chow berkomentar: “Dengan teknologi apa pun, keterlibatan kebijakan, transparansi, dan kepercayaan publik merupakan faktor penting. Baik itu mempertimbangkan penggunaan kendaraan swakemudi atau telemedis, bagaimana data dikelola, infrastruktur digunakan, maupun bagaimana berbagai sektor berkolaborasi, pelaku bisnis dan pemerintah perlu menggeser fokus dari regulasi teknologi, ke arah peningkatan transparansi dalam aplikasi 5G, dan bagaimana membangun serta menjaga kepercayaan publik dalam penggunaan dan potensi teknologi tersebut.”

 

 

 

Catatan untuk editor

PwC memanfaatkan wawasan ahli dan menggunakan pemodelan ekonomi, untuk meneliti dampak penggunaan 5G di lima industri. Proyeksi dalam studi ini mewakili dampak ekonomi bersih dari teknologi 5G, dengan mempertimbangkan efek perpindahan seperti beberapa aktivitas ekonomi yang kian usang, dan berfokus pada nilai tambah ekonomi di seluruh rantai nilai dan di seluruh ekonomi, bukan hanya pendapatan bisnis telekomunikasi 5G. Detail lebih lanjut tentang metodologi terdapat di sini

 

Tentang PwC Indonesia

PwC Indonesia terdiri dari KAP Tanudiredja, Wibisana, Rintis & Rekan, PT PricewaterhouseCoopers Indonesia Advisory, PT Prima Wahana Caraka, PT PricewaterhouseCoopers Consulting Indonesia, dan Melli Darsa & Co., Advocates & Legal Consultants, masing-masing sebagai entitas hukum dan firma anggota yang terpisah dari jaringan global PwC.

 

Tentang PwC

Di PwC, kami bertujuan membangun kepercayaan dalam masyarakat dan memecahkan masalah-masalah penting. Kami adalah jaringan firma yang terdapat di 155 negara dengan lebih dari 284.000 orang yang berkomitmen untuk memberikan jasa assurance, advisory dan pajak yang berkualitas. Temukan lebih banyak informasi dan sampaikan hal-hal yang berarti bagi Anda dengan mengunjungi situs kami di www.pwc.com.

PwC merujuk pada jaringan PwC dan/atau satu atau lebih firma anggotanya, masing-masing sebagai entitas hukum yang terpisah. Kunjungi www.pwc.com/structure untuk informasi lebih lanjut.

© PwC 2021. Hak cipta dilindungi undang-undang.

 

Contact us

Cika Andy

External Communications, PwC Indonesia

Tel: +62 21 509 92901

Follow PwC Indonesia