Optimisme CEO melambung di tengah bertambahnya kekhawatiran terhadap ancaman pertumbuhan ekonomi

  • Tingkat optimisme CEO terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global mencapai rekor dan menunjukkan tren meningkat di semua negara
  • A.S. memperkuat posisinya di atas Tiongkok sebagai target pertumbuhan pasar di tahun 2018
  • Lebih dari separuh CEO yang disurvei memperkirakan adanya peningkatan jumlah karyawan
  • Terorisme, ketidakpastian kondisi geopolitik, keamanan siber, dan perubahan iklim muncul sebagai ancaman terhadap pertumbuhan ekonomi

25 Januari 2018 – Para CEO dalam jumlah yang menembus rekor mengungkapkan optimismenya terhadap iklim ekonomi global, setidaknya untuk jangka pendek. Hal ini menjadi salah satu temuan penting dari survei PwC ke-21 terhadap hampir 1.300 CEO di seluruh dunia, yang diluncurkan hari ini dalam Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos.

Lima puluh tujuh persen dari para pemimpin usaha meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi global akan membaik dalam 12 bulan mendatang. Angka ini meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun lalu (29%) dan merupakan peningkatan terbesar sejak PwC mulai melakukan survei tentang pertumbuhan ekonomi global di tahun 2012.

Optimisme dalam pertumbuhan ekonomi global meningkat lebih dari dua kali lipat di A.S. (59%) pasca ketidakpastian yang membayangi pemilihan presiden (2017: 24%). Brazil juga mengalami peningkatan yang signifikan dalam jumlah CEO yang optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi global akan membaik (+38% menjadi 80%). Bahkan di kalangan negara-negara yang tidak terlalu optimistis seperti Jepang (2018: 38% vs. 2017: 11%) dan Inggris (2018: 36% vs. 2017: 17%), optimisme dalam pertumbuhan ekonomi global meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun lalu.

“Optimisme para CEO terhadap perekonomian global didorong oleh indikator-indikator ekonomi yang begitu kuat. Pasar saham meningkat tajam dan PDB diperkirakan bertumbuh di sebagian besar pasar kunci di seluruh dunia, jadi tidaklah mengejutkan bahwa para CEO menjadi sangat optimistis,” komentar Bob Moritz, Global Chairman, PwC.

 

Keyakinan terhadap pertumbuhan pendapatan jangka pendek sedang meningkat

Optimisme dalam perekonomian ini mendorong keyakinan para CEO terhadap prospek perusahaan mereka sendiri, bahkan meskipun peningkatannya tidak terlalu tinggi. Sebanyak 42% persen CEO mengatakan bahwa mereka “sangat yakin” terhadap prospek pertumbuhan organisasi mereka sendiri selama 12 bulan ke depan, meningkat dari 38% pada tahun lalu.

Apabila dilihat berdasarkan negara, survei menunjukkan hasil yang beragam. Pespektif para CEO membaik di beberapa pasar kunci seperti Australia (naik 4% menjadi 46%) dan Tiongkok (naik 4% menjadi 40%), di mana jumlah CEO yang berkata bahwa mereka “sangat yakin” dalam prospek pertumbuhan organisasi mereka sendiri selama 12 bulan ke depan meningkat.

Di A.S., keyakinan para CEO mulai membaik. Setelah ketegangan yang membayangi pemilihan presiden tahun lalu, fokus awal pada regulasi dan reformasi pajak oleh pemerintahan yang baru telah mendorong peningkatan optimisme yang signifikan terhadap prospek pertumbuhan usaha dalam setahun ke depan – dari 39% di tahun 2017 menjadi 52% di tahun 2018. Dan Amerika Utara adalah satu-satunya wilayah di mana sebagian besar CEO merasa “sangat yakin” tentang prospek usaha mereka selama 12 bulan mendatang.

Di Inggris, seiring tercapainya tonggak peristiwa yang signifikan dalam negosiasi Brexit baru-baru ini, penurunan optimisme jangka pendek di kalangan para pemimpin usaha tidaklah mengejutkan (2018: 34% vs. 2017: 41%).

Tiga sektor yang paling optimistis tahun ini terhadap prospek pertumbuhan usahanya dalam 12 bulan mendatang adalah Teknologi (48% merasa “sangat yakin”), Layanan Bisnis (46%) dan Farmasi dan Sains Kehidupan (46%) – semua melampaui tingkat “sangat yakin” secara global sebesar 42%.

Sebagian besar strategi pertumbuhan tidak mengalami perubahan dibandingkan dengan survei tahun lalu – para CEO akan mengandalkan pertumbuhan organik (79%), penurunan biaya (62%), aliansi strategis (49%), dan Merger & Akuisisi (M&A) (42%). Terdapat peningkatan tipis dalam minat untuk bermitra dengan para wirausahawan dan usaha-usaha rintisan (33% vs 28% tahun lalu).

 

Negara-negara dengan pertumbuhan terbesar: Keyakinan terhadap A.S. berlanjut, memperkuat posisi di atas Tiongkok

Keyakinan CEO terhadap pasar A.S. meluas hingga ke luar A.S., di mana para CEO yang berbasis di luar A.S. kembali memilih A.S. sebagai pasar dengan prospek pertumbuhan terbaik dalam 12 bulan mendatang. Tahun ini, A.S. memperkuat posisinya terhadap Tiongkok (46% A.S. vs 33% Tiongkok, di mana A.S. memimpin terhadap Tiongkok dengan kenaikan 2% dibandingkan tahun 2017).

Jerman (20%) masih menempati posisi ketiga, diikuti oleh Inggris (15%) di posisi keempat, sedangkan India menggeser Jepang sebagai pasar paling menarik kelima di tahun 2018.

“Bahkan dengan tingkat optimisme pertumbuhan global yang tinggi, para pemimpin usaha menginginkan dan membutuhkan negara yang aman untuk melabuhkan investasinya guna menjamin pertumbuhan jangka pendek,” komentar Bob Moritz, Global Chairman, PwC. “Akses terhadap konsumen, keterampilan, keuangan, dan lingkungan regulasi yang kondusif semakin memperkuat posisi-posisi pasar terkemuka di dunia, sehingga para pemimpin usaha dapat mencapai target-target pertumbuhan jangka pendeknya.”

Lapangan kerja dan keterampilan digital: jumlah karyawan akan meningkat; pemimpin usaha mengkhawatirkan ketersediaan tenaga kerja berketerampilan digital

Keyakinan terhadap pertumbuhan pendapatan jangka pendek mendorong pertumbuhan lapangan kerja, di mana 54% CEO berencana untuk menambah jumlah karyawannya di tahun 2018 (2017: 52%). Hanya 18% CEO yang berharap dapat mengurangi jumlah karyawannya.

Sektor Perawatan Kesehatan (71%), Teknologi (70%), Layanan Bisnis (67%), Komunikasi (60%), serta Keramahan dan Rekreasi (59%) adalah beberapa sektor dengan tingkat permintaan tenaga kerja tertinggi.

Mengenai keterampilan digital pada khususnya, sebanyak lebih dari seperempat (28%) CEO sangat mengkhawatirkan ketersediaan keterampilan tersebut di negara tempat usaha mereka, dan angka ini meningkat menjadi 49% CEO yang sangat khawatir di Afrika Selatan, 51% di Tiongkok, dan 59% di Brazil.

Secara keseluruhan, 22% CEO sangat mengkhawatirkan tersedianya keterampilan-keterampilan digital penting dalam tenaga kerja, 27% dalam industri mereka, dan 23% di tingkat pimpinan.

Investasi dalam lingkungan kerja yang modern, program-program pembelajaran dan pengembangan, dan kerja sama dengan para penyedia jasa lainnya menjadi strategi-strategi paling utama untuk membantu para CEO tersebut dalam menarik dan mengembangkan tenaga kerja digital yang mereka perlukan.

 

Dampak teknologi terhadap pekerjaan dan keterampilan

Meskipun penelitian yang baru-baru ini dilakukan oleh PwC menunjukkan bahwa para pekerja lebih optimistis terhadap teknologi yang dianggap mampu membantu meningkatkan prospek kerja mereka, para CEO mengakui bahwa membantu para karyawan untuk melatih ulang, dan meningkatkan transparansi tentang bagaimana otomatisasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat mempengaruhi lapangan kerja menjadi isu yang lebih penting bagi mereka.

Dua per tiga CEO meyakini bahwa mereka bertanggung jawab untuk melatih ulang para karyawan yang perannya tergantikan oleh teknologi, terutama di sektor-sektor Rekayasa & Konstruksi (73%), Teknologi (71%), dan Komunikasi (77%). Sebanyak 61% CEO membangun kepercayaan di kalangan tenaga kerjanya dengan menciptakan transparansi, setidaknya hingga taraf tertentu, tentang bagaimana otomatisasi dan AI berdampak pada para karyawan mereka.

 

Bob Moritz, Global Chairman, PwC, berkomentar:

“Sistem pendidikan kita perlu membekali tenaga kerja global dengan keterampilan yang tepat untuk sukses. Pemerintah, masyarakat, dan badan-badan usaha perlu benar-benar bermitra agar dapat mempertemukan tenaga kerja dengan peluang, dan hal itu berarti merintis pendekatan-pendekatan baru untuk mendidik para siswa dan melatih para pekerja di bidang-bidang yang akan menjadi bernilai di bursa tenaga kerja yang ditenagai teknologi. Hal itu juga berarti mendorong dan menciptakan peluang bagi tenaga kerja untuk melatih ulang dan mempelajari keterampilan-keterampilan baru di sepanjang karier mereka. Seiring tumbuhnya minat dalam kerja magang, pelatihan di sepanjang usia yang relevan dengan suatu bisnis atau industri menjadi sangat penting.”

Transisi menuju era digital dan otomatisasi sangat jelas terlihat dalam sektor Jasa Keuangan. Hampir seperempat (24%) CEO di bidang Perbankan & Pasar Modal serta Asuransi berencana mengurangi jumlah tenaga kerja, di mana 28% pekerjaan di bidang Perbankan & Pasar Modal berpotensi tergantikan dalam jumlah besar oleh teknologi dan otomatisasi.

 

Ancaman terhadap pertumbuhan: Para CEO mengkhawatirkan ancaman-ancaman sosial yang lebih luas dan sulit dikendalikan

Di tengah melambungnya optimisme terhadap perekonomian global, kecemasan mulai muncul dalam serangkaian ancaman yang lebih luas terhadap bisnis, sosial, dan ekonomi. Para CEO ‘sangat khawatir’ tentang ketidakpastian dalam kondisi geopolitik (40%), ancaman siber (40%), terorisme (41%), ketersediaan keterampilan penting (38%), dan populisme (35%). Ancaman-ancaman ini dianggap jauh lebih besar daripada sumber kekhawatiran yang lazim dalam prospek pertumbuhan usaha, seperti fluktuasi nilai tukar (29%), dan perilaku konsumen yang berubah-ubah (26%).

Di tengah transisi ini, kekhawatiran yang luar biasa terhadap terorisme menjadi berlipat ganda (2018: 41% vs 2017: 20%), sehingga menempatkan terorisme sebagai salah satu dari 10 ancaman terbesar terhadap pertumbuhan usaha. Ancaman terkait pengetatan regulasi yang berlebihan masih menjadi salah satu sumber kekhawatiran terbesar di kalangan CEO (42% “sangat khawatir”), dan lebih dari sepertiga (36%) masih mengkhawatirkan adanya kenaikan tarif pajak.

Ketersediaan keterampilan-keterampilan penting menjadi faktor kekhawatiran utama para CEO di Tiongkok (2018: 64% “sangat khawatir” vs. 2017: 52%). Di A.S. (63%) dan Inggris (39%), faktor siber menjadi ancaman terbesar bagi para CEO, lebih daripada pengetatan regulasi secara berlebihan. Dan di Jerman, faktor siber melompat dari posisi kelima ancaman terbesar di tahun 2017 ke posisi ketiga (28%) tahun ini.

Setahun setelah Perjanjian Paris ditandatangani oleh lebih dari 190 negara, yang menjadi saksi komitmen berbagai negara untuk secara sukarela mengambil tindakan terkait perubahan iklim dan investasi rendah karbon, jumlah CEO yang mengkhawatirkan ancaman perubahan iklim dan kerusakan lingkungan terhadap prospek pertumbuhan usaha kini berlipat ganda menjadi 31% (2017: 15%).

Peristiwa-peristiwa cuaca ekstrim yang diberitakan luas dan keluarnya A.S. dari Perjanjian Paris telah secara signifikan mendorong pentingnya tindakan bisnis terhadap risiko iklim, regulasi, dan ketahanan. Di Tiongkok, lebih dari separuh (54%) pemimpin usaha sangat mengkhawatirkan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan sebagai ancaman terhadap pertumbuhan usaha, setara dengan tingkat kekhawatiran mereka terhadap ketidakpastian kondisi geopolitik dan isu proteksionisme.

“Meningkatnya kekhawatiran lebih disebabkan oleh pergeseran sosial dan geopolitik daripada dinamika pasar para pemimpin usaha sendiri,” komentar Bob Moritz, Global Chairman, PwC. “Jelas bahwa keyakinan mereka terhadap pertumbuhan pendapatan jangka menengah maupun panjang ini teredam oleh ancaman-ancaman yang tidak biasa diatasi langsung oleh dunia usaha.”

Kepercayaan dan kepemimpinan: CEO belum dapat memastikan apakah pertumbuhan ekonomi di masa depan akan membawa manfaat bagi masyarakat luas atau hanya bagi kalangan tertentu

Senada dengan tema Forum Ekonomi Dunia tahun ini, para CEO mengakui bahwa kita hidup di dunia yang retak oleh kesenjangan. Para CEO belum dapat memastikan apakah pertumbuhan ekonomi di masa depan akan membawa manfaat bagi masyarakat luas atau hanya kalangan tertentu. Mereka melihat bahwa dunia sedang bergerak ke arah metrik-metrik baru multisegi untuk mengukur kemakmuran di masa depan.

Bob Moritz, Chairman, PwC berkomentar:

“Tingkat kekhawatiran CEO yang lebih tinggi terkait ancaman-ancaman sosial yang lebih luas menggarisbawahi bagaimana perusahaan-perusahaan mengarungi dunia yang semakin retak oleh kesenjangan. Para CEO di setiap wilayah dan negara yang kami wawancarai mengakui bahwa cara-cara lama untuk mengukur pertumbuhan dan laba tidak akan berhasil apabila diterapkan secara eksklusif di masa depan. Terutama dalam konteks Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG), mungkin kita akan melihat lebih banyak upaya untuk mengembangkan dan menetapkan metrik-metrik yang dapat menangkap dan menyampaikan tujuan suatu organisasi dengan cara yang relevan bagi para pemangku kepentingan usaha di tahun-tahun mendatang.”

Mempertimbangkan tantangan-tantangan kunci terhadap kepercayaan pada usaha, para CEO mengakui bahwa tantangan utamanya adalah bagaimana dapat memberikan hasil dalam jangka waktu yang lebih pendek (60%). Namun setelah itu, terdapat pergeseran yang signifikan di mana mayoritas CEO yang disurvei mengungkapkan adanya tekanan yang lebih besar untuk meminta pertanggungjawaban pemimpin secara perorangan (59%), termasuk pertanggungjawaban atas perbuatan salah. Lebih dari sepertiga CEO melaporkan adanya tekanan yang lebih besar dari karyawan dan pelanggan untuk mengambil sikap politik maupun sosial (38%) di depan publik.

Dalam sektor Perbankan & Pasar Modal (65%), Perawatan Kesehatan (65%), dan Teknologi (59%), tingkat pentingnya akuntabilitas kepemimpinan lebih tinggi dari rata-rata. Demikian halnya dengan ekspektasi di A.S. (70%), Brazil (67%), dan Inggris (63%). Debat tingkat tinggi tentang keberagaman, imigrasi, inklusi sosial, dan kesetaraan penghasilan telah meningkatkan ekspektasi karyawan terhadap para pemimpin untuk terlibat dalam isu-isu politik dan sosial, terutama di A.S. (51%), Tiongkok (41%), dan Inggris (38%).

Irhoan Tanudiredja, Senior Territory Partner, PwC Indonesia berkomentar:

“Para CEO di Indonesia kini dapat turut memiliki optimisme tentang pertumbuhan ekonomi dalam 12 bulan mendatang, sebagaimana disimpulkan dalam laporan Survei CEO ke-21. Menurut laporan ini, mayoritas perekonomian besar di dunia mengalami pertumbuhan yang positif, sangat berbeda dengan keadaan pada beberapa tahun yang lalu, yang menjadi pertanda baik bagi Indonesia.”

“Akan tetapi, laporan ini juga mencatat adanya beberapa ancaman yang perlu ditangani. Para CEO di seluruh dunia semakin khawatir dengan ancaman-ancaman sosial yang lebih luas – seperti ketidakpastian kondisi geopolitik, terorisme, dan perubahan iklim – daripada risiko-risiko usaha yang bersifat langsung, seperti perubahan pada perilaku konsumen atau pendatang baru di pasar. Hasil survei kami menyebutkan, ancaman-ancaman seperti terorisme dan serangan siber kini mulai termasuk ke dalam lima ancaman terbesar yang paling dikhawatirkan oleh para CEO.”

“Laporan ini mencatat sejumlah perbedaan regional dalam survei dan ternyata, para CEO di wilayah Asia Pasifik memberikan penilaian yang cenderung lebih positif terhadap manfaat-manfaat globalisasi. Hampir 70% CEO Asia Pasifik meyakini bahwa globalisasi telah membantu – setidaknya hingga taraf tertentu – memperkecil kesenjangan ekonomi. Asia Pasifik juga merupakan wilayah dengan pandangan yang paling positif tentang perubahan iklim; di mana 27% CEO di wilayah tersebut meyakini bahwa globalisasi telah membantu kita menghindari perubahan iklim ‘secara signifikan’.
 


Catatan

  1. PwC melakukan 1.293 wawancara dengan para CEO di 85 negara antara bulan Agustus dan November 2017. Sampel kami diperhitungkan terhadap bobot PDB nasional untuk memastikan agar pandangan para CEO terwakili dengan adil di semua negara besar. Sebanyak 11% dari wawancara dilakukan melalui telepon, 77% secara online, dan 12% melalui pos atau tatap muka. Semua wawancara kualitatif dilakukan secara rahasia. Sebanyak 40% perusahaan memiliki pendapatan sebesar $1 miliar atau lebih: 35% perusahaan memiliki pendapatan antara $100 juta dan $1 juta; 20% perusahaan memiliki pendapatan hingga $100 juta; 56% perusahaan dimiliki swasta. 
  2. Perubahan Iklim: Perubahan Iklim dan kerusakan lingkungan dilaporkan termasuk ke dalam lima ancaman terbesar bagi usaha-usaha di Asia Pasifik dan Eropa Barat, dan diakui sebagai salah satu dari lima ancaman terbesar bagi prospek pertumbuhan usaha-usaha di sektor Energi dan Utilitas, Rekayasa dan Konstruksi, serta Transportasi dan Logistik. 
  3. Globalisasi: Terkait pertanyaan apakah globalisasi telah membantu ‘memperkecil kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin’, hampir 40% CEO menjawab “sama sekali tidak”. Sebanyak 30% menjawab bahwa globalisasi tidak membantu “mencegah perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya”. Lebih dari satu dari empat CEO berkata bahwa globalisasi tidak membantu meningkatkan “integritas dan efektivitas sistem perpajakan global” sama sekali. 
  4. Kepercayaan: Sebanyak 71% CEO kini mengukur tingkat kepercayaan antara tenaga kerja dan pimpinan perusahaan mereka. Tindakan terkait keamanan siber, keberagaman dan inklusi serta peningkatan transparansi dalam strategi-strategi dan rencana-rencana usaha merupakan beberapa di antara bidang-bidang fokus utama. 
  5. Walaupun hanya ada 18% CEO yang ingin mengurangi jumlah tenaga kerjanya, para CEO memperkirakan bahwa empat dari lima (80%) pekerjaan yang terkena dampak akan dipengaruhi dengan cara tertentu oleh teknologi – 52% hingga taraf tertentu dan 28% secara signifikan. 
  6. Hasil kajian Global Innovation 1000 PwC tahun ini menemukan adanya 52% responden yang meyakini bahwa nasionalisme ekonomi akan mempunyai dampak berskala sedang atau signifikan terhadap upaya-upaya penelitian & pengembangan (R&D) perusahaan mereka, sehingga jaringan kerja saat ini yang telah terintegrasi dan saling bergantung akan berganti dengan bagian-bagian R&D yang terpisah.
     

Tentang PwC

Di PwC, kami bertujuan membangun kepercayaan dalam masyarakat dan memecahkan masalah-masalah penting. Kami adalah jaringan firma yang terdapat di 158 negara dengan lebih dari 236.000 orang yang berkomitmen untuk memberikan jasa assurance, advisory dan pajak yang berkualitas. Temukan lebih banyak informasi dan sampaikan hal-hal yang berarti bagi Anda dengan mengunjungi situs kami di www.pwc.com.

PwC merujuk pada jaringan PwC dan/atau satu atau lebih firma anggotanya, masing-masing sebagai entitas hukum yang terpisah. Kunjungi www.pwc.com/structure untuk informasi lebih lanjut.

© 2018 PwC. Hak cipta dilindungi undang-undang.
 

Contact us

Cika Andy

External Communications, PwC Indonesia

Tel: +62 21 509 92901

Follow PwC Indonesia