Dunia Kerja Masa Depan: Menuju 2022

Evolusi dan dunia kerja idaman para pekerja di masa depan

Jakarta, 5 Februari 2015 – PwC merilis laporan berdasarkan survei pada 10.000 orang di Asia, Eropa, Inggris dan Amerika Serikat tentang perubahan dunia kerja di masa mendatang dan bagaimana perubahan tersebut akan mempengaruhi kehidupan kerja mereka. Masukkan lebih mendalam didapat di survei yang juga dilakukan kepada hampir sebanyak 500 orang pimpinan di bidang sumber daya manusia (SDM) di seluruh dunia, mengenai bagaimana mereka mempersiapkan diri terhadap perubahan yang akan terjadi di dunia kerja masa mendatang.

Faktor-faktor yang mengubah cara kerja di masa depan

Hasil survei menemukan bahwa terdapat pergeseran besar yang secara total mengubah cara orang bekerja di masa depan. Terobosan di bidang teknologi, terbatasnya sumberdaya dan faktor perubahan iklim, berpindahnya kekuatan ekonomi global, berubahnya struktur demografis, dan pesatnya urbanisasi merupakan penyebab signifikan perubahan cara orang dalam bekerja. Laporan ini juga sejalan dengan studi 2013 PwC 'NextGen' yang menemukan bahwa hampir 80% tenaga kerja mulai 2016 akan berasal dari Generation Y (atau dikenal juga dengan Millenial) – yaitu mereka yang lahir dari tahun 1980 - 1995 – dan mempunyai aspirasi nilai dan preferensi mereka sendiri mengenai bagaimana, dimana, dan kapan mereka bekerja dan berkolaborasi.

Diantara 10.000 orang responden dalam survei ini, lebih dari separuh meyakini bahwa terobosan teknologi-lah yang akan mempengaruhi cara orang bekerja selama lima hingga sepuluh tahun ke depan. 39% meyakini perubahan cara bekerja disebabkan oleh kelangkaan sumberdaya dan perubahan iklim, 36% disebabkan karena pergeseran kekuatan ekonomi global, 33% disebabkan pergeseran demografis, dan 26% karena pesatnya pertumbuhan tingkat urbanisasi.

Teknologi baru, analisis data, dan media sosial berdampak sangat besar terhadap cara orang berkomunikasi, berkolaborasi, dan bekerja. Saat ini, dunia kerja berisi orang-orang dari generasi yang berbeda. Tenaga kerja yang tersedia akan semakin beragam dan jam kerja akan semakin panjang. Jenjang karir tradisional akan segera menjadi masa lalu.

Isu & dampaknya terhadap divisi SDM

Tren dan perkembangan seperti di atas akan berpengaruh terhadap cara divisi SDM mempekerjakan dan mempertahankan karyawan. Seperti dijelaskan oleh Marina Tusin, Partner PwC Consulting Indonesia, “Perubahan model bisnis menimbulkan konsekuensi dimana perusahaan akan menghadapi berbagai permasalahan seperti:  Perlunya menciptakan metode penilaian yang lebih baik untuk memantau dan mengendalikan kinerja serta produktivitas, meningkatnya pentingnya kekayaan aspek sosial dan relasi satu sama lain sebagai penggerak kesuksesan usaha, dan menghilangnya batasan dunia kerja dengan kehidupan pribadi saat perusahaan semakin meningkatkan peran dalam mewujudkan kesejahteraan sosial karyawannya.”

Biru, Hijau, atau Jingga?

Lebih lanjut, hasil survei juga menemukan apa keinginan para responden terkait dunia kerja ideal mereka di masa depan, yang dapat dirangkum menjadi tiga ‘dunia kerja’ yang berbeda:

Dunia Biru – dimana sistem korporasi adalah yang terbaik. Di “dunia” ini, perusahaan mempunyai harapan tinggi bagi pekerjanya untuk terus memberikan kinerja yang terbaik. Perusahaan di Dunia Biru adalah perusahaan besar yang selalu mendorong upaya inovasi dan pengembangan yang ada, termasuk mempekerjakan yang terbaik dan menawarkan jaminan pekerjaan berikut penghargaan dalam jangka panjang. Hanya 10% responden yang menganggap dunia ini adalah dunia kerja yang ideal.

Untuk menemukan dan memberikan keahlian yang diperlukan, demi mencapai tujuan bisnis, divisi SDM yang sukses di “dunia” ini akan mengembangkan metode penilaian dan pengelolaan sumberdaya untuk memastikan bahwa tenaga kerja yang dimiliki dapat mencapai target kinerja. Dalam Dunia Biru, divisi SDM akan berada di pusat penerapan sebuah strategi yang sangat terfokus pada angka-angka dan fungsi kinerja.

Dunia Hijau – adalah perusahaan-perusahaan yang memiliki kepekaan tinggi, yang memikirkan kembali tujuan dan nilai usaha mereka, memiliki kesadaran sosial dan lingkungan yang tinggi, juga menerapkan nilai sesuai yang dianut oleh para karyawannya. Lebih dari separuh responden memilih dunia ini sebagai yang ideal.

Para karyawan di dunia ini menginginkan nilai-nilai etika dan keseimbangan antara dunia kerja dan kehidupan pribadi sebagai imbalan atas kesetiaan terhadap perusahaan. Di Dunia Hijau, peran divisi SDM akan semakin beragam untuk membantu membentuk kehidupan kerja para karyawan agar dapat berdampingan dengan nilai pribadi yang mereka miliki. Divisi SDM membantu menjalin kerjasama yang erat antara atasan dan karyawan untuk merancang kehidupan kerja agar berdampingan dengan cita-cita pribadi serta gaya hidup yang dijalani karyawan. Perusahaan di Dunia Hijau memiliki skema penghargaan yang fleksibel untuk diterapkan sebagai bagian dari rancangan individual masing-masing orang.

Dunia Jingga – dimana kecil itu indah, perusahaan-perusahaan di Dunia Jinggaakan terpecah menjadi suatu jaringan yang lebih longgar, yang terhubung satu sama lain dengan bantuan teknologi, dimana konektivitas terjalin semakin kuat berkat media sosial. Lebih dari sepertiga memilih dunia ini sebagai tempat kerja yang ideal.

Fleksibilitas, kemandirian, dan tantangan yang beragam sebagai imbalan atas pekerjaan jangka pendek yang bersifat kontraktual adalah nilai yang mereka cari sebagai karyawan di Dunia Jingga. Dalam Dunia Jingga, divisi SDM akan memiliki peran yang lebih kecil dalam hal rekrutmen dan pengajuan tawaran pekerjaan, karena aspek-aspek peran SDM sebagian besar akan dialih dayakan.

Aspirasi Generasi Millennial

Senada dengan aspirasi dunia kerja ideal, generasi Millennial menginginkan fleksibilitas yang lebih besar untuk mengakomodasi jadwal mereka sendiri dan tertarik untuk bekerja di luar kantor dimana mereka dapat terhubung dengan didukung teknologi. Tidak seperti generasi sebelumnya yang menekankan pada karir dan bekerja lebih dari 40 jam seminggu dengan harapan naik ke posisi yang lebih tinggi, generasi Millennial tidak yakin bahwa pengorbanan seperti itu adalah yang mereka cari. Keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan adalah lebih penting bagi mereka.

Generasi Millennial juga mengatakan bahwa budaya kerja yang kohesif, kerjasama tim dan adanya kesempatan kerja yang menarik di seluruh dunia adalah penting untuk kebahagiaan di tempat kerja mereka, bahkan lebih daripada rekan-rekan non-Millennial mereka. Generasi Milennial menempatkan prioritas tinggi pada budaya kerja dan lingkungan kerja yang menekankan kerja sama tim dan rasa komunitas. Mereka juga menghargai transparansi, terutama yang berkaitan dengan keputusan tentang karir mereka, kompensasi dan manfaat.

Masa depan pengelolaan sumber daya manusia

Kemunculan tiga “dunia” dan preferensi akan dunia kerja yang berubah, nantinya menciptakan tantangan baru bagi divisi SDM.

“Efektivitas yang dipilih perusahaan dalam merencanakan pengelolaan sumberdaya manusia dalam jangka panjang akan sangat penting bagi kelangsungan hidup perusahaan tersebut dalam jangka panjang pula. Pastikan perusahaan menunjuk orang yang tepat, keahlian yang tepat, di tempat yang tepat pula untuk mewujudkan tujuan perusahaan Anda yang akan terus berevolusi. Jika terlalu fokus pada hal yang bersifat jangka pendek, maka perusahaan akan tertinggal, karena tak mampu mengikuti pergeseran di pasar yang seringkali berubah”, jelas Marina.

Lebih lanjut lagi, Marina menyimpulkan, “Divisi SDM yang berpandangan jauh ke depan, akan mempertimbangkan berbagai skenario berbeda yang mungkin terjadi di masa depan sebagai bagian dari perencanaan usaha mereka. Tiga “dunia” tersebut dapat menjadi titik awal untuk memperkirakan peluang, risiko dan tuntutan yang harus dipenuhi divisi SDM di berbagai aspek yang dimiliki perusahaan.”

Contact us

Annetly Ngabito

External Communications, PwC Indonesia

Tel: +62 21 509 92901

Follow PwC Indonesia